Poin Penting
- Airlangga menyebut hubungan ekonomi Indonesia-Eropa telah berlangsung sejak abad ke-15 melalui perdagangan rempah.
- Pemerintah ingin mengubah hubungan historis tersebut menjadi kerja sama ekonomi yang lebih setara.
- IEU-CEPA menjadi instrumen penting untuk memperluas perdagangan, investasi, dan akses pasar kedua kawasan.
Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut hubungan ekonomi Indonesia dan Uni Eropa memiliki akar sejarah yang panjang sejak abad ke-15. Kini, pemerintah ingin mengubah pola hubungan tersebut menjadi kemitraan yang lebih setara.
Airlangga menyampaikan pandangan itu saat bertemu sejumlah duta besar negara Uni Eropa. Pertemuan berlangsung di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat, 21 Agustus 2026.
Menurut Airlangga, hubungan tersebut bermula dari perdagangan rempah Indonesia menuju Eropa. Namun, perkembangan ekonomi global membuat pola kerja sama itu perlu diarahkan menuju bentuk baru.
Baca juga: UE Soroti Stabilitas RI, Investor Tunggu Kepastian Kebijakan
Berawal dari Jalur Rempah
Airlangga mengingatkan sejarah panjang hubungan Indonesia dan Eropa. Menurutnya, hubungan ekonomi Indonesia-Eropa telah mulai terbentuk sejak abad ke-15.
“Hubungan ekonomi Indonesia-Eropa itu sudah mulai dari abad ke-15 dari ekspor rempah-rempah Indonesia ke Eropa,” ujar Airlangga.
Perdagangan rempah memang telah menghubungkan Nusantara dengan pasar internasional jauh sebelum kedatangan Eropa. Jalur perdagangan tersebut menghubungkan Maluku dengan Asia, Timur Tengah, hingga kawasan Eropa.
Namun, konteks sejarahnya tidak berhenti pada perdagangan. Ekspansi bangsa Eropa kemudian berkembang menjadi perebutan kendali atas wilayah dan sumber daya Nusantara.
Bukan Sekadar Perdagangan
Kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara berkaitan erat dengan pencarian jalur langsung menuju sumber rempah. Pada abad ke-16, Portugis menjadi bangsa Eropa pertama yang mencapai pusat rempah di Maluku.
Dalam perkembangannya, kepentingan dagang berubah menjadi upaya penguasaan. Direktorat Jenderal Kebudayaan mencatat kedatangan Eropa kemudian berkembang menjadi kolonisasi.
Belanda bahkan membentuk VOC pada 1602 untuk memperkuat kepentingan dagangnya. VOC memiliki kewenangan membuat perjanjian, menyatakan perang, membangun benteng, dan menguasai wilayah.
Di Maluku, kepentingan tersebut melahirkan praktik monopoli perdagangan rempah. VOC kemudian memperkuat penguasaan atas perdagangan cengkeh dan pala.
Karena itu, hubungan historis tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kemitraan ekonomi yang setara. Ada fase ketika perdagangan menjadi pintu masuk bagi ekspansi, monopoli, dan penguasaan kolonial.
Konteks tersebut membuat pernyataan Airlangga tentang hubungan setara memiliki makna historis. Indonesia kini ingin membangun hubungan dengan Eropa berdasarkan kepentingan ekonomi yang lebih seimbang.
IEU-CEPA Jadi Momentum Ubah Pola Hubungan
Perubahan tersebut didorong melalui Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IEU-CEPA. Airlangga menyebut perjanjian itu sebagai game changer bagi Indonesia.
IEU-CEPA akan memberikan akses pasar lebih luas bagi kedua kawasan. Sebanyak 95 persen pos tarif Indonesia disebut langsung menjadi nol setelah perjanjian berlaku.
Bagi Indonesia, manfaat tersebut tidak hanya berkaitan dengan perdagangan. Pemerintah juga berharap perjanjian itu membuka potensi investasi baru dari Eropa.
Eropa saat ini menjadi salah satu mitra investasi Indonesia di berbagai sektor. Airlangga juga melihat meningkatnya kunjungan delegasi bisnis Eropa sebagai sinyal positif.
Delegasi bisnis dari Jerman dan Prancis disebut telah mengunjungi Indonesia. Negara-negara Uni Eropa lainnya juga disebut tengah menyiapkan kunjungan serupa.
Momentum tersebut dinilai berkaitan erat dengan prospek IEU-CEPA. Minat investasi Eropa diharapkan semakin kuat setelah perjanjian tersebut diratifikasi.
Sektor Modern Jadi Arah Baru Kerja Sama
Airlangga menyebut sejumlah sektor strategis yang berpotensi dikembangkan kedua pihak. Sektor tersebut mencakup energi terbarukan, digital, keamanan siber, dan pertanian.
Indonesia juga melihat kekuatan Eropa dalam sektor manufaktur. Kemampuan inovasi teknologi Eropa menjadi peluang lain untuk memperluas kerja sama ekonomi.
“Kita sebetulnya punya wishlist dari kedua belah pihak yang tentunya akan diimplementasikan,” ujar Airlangga.
Dengan demikian, kerja sama tidak hanya diarahkan pada arus barang. Investasi, teknologi, dan pengembangan sektor strategis menjadi bagian penting dari hubungan baru.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Denis Chaibi menyambut arah tersebut. Ia menegaskan komitmen politik negara anggota untuk segera menandatangani CEPA.
“Proses ratifikasi ini akan memicu investasi yang kuat serta meningkatkan minat perusahaan-perusahaan Eropa untuk berinvestasi di Indonesia,” kata Denis.
Baca juga: UE Dorong IEU-CEPA Segera Ditandatangani, RI Targetkan Oktober 2026
Indonesia Ingin Hubungan Ekonomi Lebih Setara
Pemerintah menargetkan IEU-CEPA dapat ditandatangani pada Oktober 2026. Setelah penandatanganan, perjanjian akan dilanjutkan dengan proses ratifikasi kedua pihak.
Indonesia juga telah menyiapkan implementing agreement sebagai persiapan pelaksanaan. Pemerintah menyiapkan peraturan pemerintah sebagai aturan turunan IEU-CEPA.
Percepatan implementasi menjadi penting karena fasilitas GSP Indonesia berakhir akhir tahun. Pemerintah ingin memastikan tidak terjadi kesenjangan fasilitas perdagangan.
Airlangga berharap proses ratifikasi berjalan cepat setelah penandatanganan. Pemerintah juga menyiapkan kunjungan pejabat tinggi Uni Eropa pada Oktober atau November.
Langkah tersebut menunjukkan upaya mengubah hubungan lama menjadi kerja sama ekonomi modern. Hubungan ekonomi Indonesia Uni Eropa kini diarahkan menuju kemitraan yang lebih setara dan saling menguntungkan. (*)
Editor: Galih Pratama


