Poin Penting:
- Uni Eropa melihat Indonesia sebagai mitra penting untuk diversifikasi rantai pasok mineral kritis dan energi.
- Indonesia menawarkan hilirisasi, transfer teknologi, serta pengembangan tenaga kerja kepada investor Eropa.
- Kerja sama mineral kritis diarahkan membangun rantai nilai yang berkelanjutan dan tangguh.
Jakarta – Uni Eropa membidik mineral kritis dan rantai pasok Indonesia dalam penguatan hubungan ekonomi kedua pihak. Indonesia menawarkan hilirisasi, teknologi, dan sektor strategis untuk menarik investasi Eropa.
Arah kerja sama itu semakin luas setelah negosiasi IEU-CEPA menghasilkan kesepakatan. Kedua pihak kini melihat hubungan dagang sebagai bagian dari penguatan rantai nilai.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga mengatakan Indonesia menyambut peningkatan investasi Uni Eropa di berbagai sektor strategis. Salah satu sektor yang menjadi perhatian ialah pengolahan mineral kritis.
“Indonesia menyambut peningkatan investasi Uni Eropa di sektor-sektor strategis, termasuk kendaraan listrik dan ekosistem baterai, energi terbarukan, industri digital, manufaktur maju, pengolahan mineral kritis, pengelolaan air, serta infrastruktur berkelanjutan,” ujar Airlangga dalam pertemuan dengan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Denis Chaibi di Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026.
Pilihan sektor tersebut menunjukkan perubahan kebutuhan hubungan ekonomi Indonesia dan Uni Eropa. Kerja sama tidak lagi hanya diarahkan pada perdagangan barang.
Indonesia ingin menarik investasi yang memperkuat kapasitas industri domestik. Fokusnya mencakup teknologi, energi, mineral, dan industri masa depan.
Baca juga: UE Dorong IEU-CEPA Segera Ditandatangani, RI Targetkan Oktober 2026
Hilirisasi Jadi Kunci Rantai Pasok
Airlangga menekankan pentingnya kerja sama dalam membangun rantai nilai yang tangguh. Pemerintah juga mendorong transfer teknologi dan pengembangan tenaga kerja.
“Kami juga menginginkan kolaborasi yang lebih erat dalam hilirisasi industri, transfer teknologi, pengembangan tenaga kerja, serta pembangunan rantai nilai yang berkelanjutan dan tangguh, khususnya pada rantai pasok mineral kritis dan energi,” ujarnya.
Pesan tersebut memperlihatkan kepentingan Indonesia dalam kerja sama investasi. Modal asing diharapkan menghasilkan peningkatan kapasitas industri, bukan sekadar memperbesar perdagangan.
Dalam lima tahun terakhir, investasi Uni Eropa mencapai USD13,6 miliar. Investasi itu disebut menciptakan lebih dari 245.000 lapangan kerja di Indonesia.
Airlangga juga mencatat UE sebagai sumber investasi berkualitas tinggi. Investasi tersebut telah masuk ke farmasi, kimia, manufaktur maju, utilitas, dan jasa berkelanjutan.
Diversifikasi Menjadi Strategi Bersama
Kebutuhan terhadap rantai pasok yang lebih tangguh juga muncul dari sisi Uni Eropa. Denis Chaibi mengatakan UE ingin memperluas dan mendiversifikasi kemitraan komersialnya.
“Pesan utama kami adalah bahwa Uni Eropa ingin melakukan diversifikasi kemitraan komersialnya,” kata Chaibi pada kesempatan yang sama.
Pesan tersebut sejalan dengan kepentingan Indonesia memperkuat rantai pasok mineral dan energi. Kedua pihak memiliki ruang kerja sama melalui investasi dan pengembangan industri.
Airlangga menilai keamanan ekonomi membutuhkan kemitraan yang dapat dipercaya. Menurutnya, fragmentasi ekonomi justru perlu dihindari melalui diversifikasi.
Baca juga: Ekonomi RI Ditarget 6 Persen, Energi Hijau Jadi Taruhan
“Kami menyambut semakin kuatnya pemahaman bahwa keamanan ekonomi harus dicapai melalui diversifikasi dan kemitraan yang tepercaya, bukan melalui fragmentasi,” ujarnya.
Kerangka tersebut menempatkan Uni Eropa membidik mineral kritis dan rantai pasok Indonesia dalam konteks lebih luas. Kerja sama kedua pihak berpotensi memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai strategis. (*)
Editor: Galih Pratama


