Poin Penting
- Perbankan tetap jadi target utama serangan siber karena mengelola data sensitif dan transaksi bernilai tinggi, sehingga menarik bagi pelaku kejahatan
- Adopsi teknologi, termasuk AI, meningkatkan risiko baru di tengah manfaat efisiensi, karena teknologi yang sama juga dimanfaatkan penyerang untuk membuat serangan lebih canggih
- Keamanan siber harus lebih adaptif dan merata, namun masih ada kesenjangan akses terutama bagi UMKM dan segmen menengah, yang membuat mereka lebih rentan terhadap ancaman digital.
Jakarta – Industri jasa keuangan, khususnya perbankan masih menjadi sasaran utama serangan siber meski telah menerapkan sistem keamanan berlapis. Tingginya nilai ekonomi dan data yang dikelola membuat sektor ini terus menjadi target empuk pelaku kejahatan digital.
Country Manager Indonesia Palo Alto Networks, Adi Rusli, mengungkapkan pola serangan siber serupa dengan kejahatan konvensional yang cenderung menyasar aset bernilai tinggi.
“Dari zaman nenek moyang kita, nggak ada penjahat masuk rumahnya orang yang nggak punya. Tapi penjahat selalu masuk ke atau menyatronin rumah mewah. Begitu juga di dunia siber, targetnya adalah sektor yang memiliki nilai tinggi,” ujar Adi, dalam acara Ignite on Tour Jakarta 2026, Rabu, 22 April 2026.
Menurutnya, perbankan menjadi salah satu infrastruktur informasi vital yang menyimpan data sensitif sekaligus mengelola transaksi bernilai besar.
Hal ini membuat sektor tersebut kerap menjadi sasaran, baik oleh pelaku yang bermotif finansial maupun aktor yang didukung negara (nation-state actors).
Baca juga: Jurus Bank Jambi Perkuat Sistem Keamanan Siber
Adi menjelaskan, kedekatan industri perbankan dengan inovasi teknologi turut memperbesar risiko serangan. Setiap adopsi teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), tidak hanya membawa efisiensi tetapi juga membuka potensi celah keamanan baru.
“Memang itu industri keuangan dekat sekali dengan inovasi dan teknologi. Dan inovasi dan teknologi akan selalu datang dengan risiko,” ujarnya.
Adopsi Teknologi AI
Ia menambahkan, penggunaan AI kini semakin luas di lingkungan perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dan layanan. Namun, teknologi yang sama juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk melancarkan serangan yang lebih canggih dan sulit dideteksi.
“Seperti yang kita tahu sekarang AI juga bisa di-leverage enterprise tapi at the same time juga kita menghadapi risikonya,” bebernya.
Kondisi ini, kata Adi, membuat industri keuangan tidak bisa hanya mengandalkan sistem keamanan konvensional. Diperlukan pendekatan yang lebih adaptif, termasuk pemantauan berkelanjutan, penguatan manajemen identitas, serta pemanfaatan teknologi AI untuk mendeteksi ancaman secara dini.
Baca juga: Rawan Kejahatan Siber, CIMB Niaga Perkuat Keamanan OCTO Biz dengan Sistem Berlapis
Adi menegaskan, tidak ada perusahaan yang benar-benar kebal terhadap serangan siber saat ini.
“Memang tidak ada perusahaan yang imun terhadap serangan. Terlebih di era AI sekarang, penyebarannya sangat masif dan tidak lagi melihat ukuran atau skala bisnis,” ujar Adi.
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi AI turut mengubah lanskap ancaman siber secara signifikan. Pelaku kejahatan kini dapat memanfaatkan teknologi tersebut untuk melancarkan serangan yang lebih cepat, luas, dan sulit diprediksi.
Namun di sisi lain, Adi menyoroti adanya kesenjangan dalam adopsi teknologi keamanan siber, terutama pada pelaku usaha di segmen UMKM dan pasar menengah.
Menurut dia, selama ini solusi keamanan siber lebih banyak dikembangkan untuk kebutuhan perusahaan besar atau enterprise, sehingga belum sepenuhnya mudah diakses oleh pelaku usaha kecil.
“Dulu, bagi UMKM atau mid-market, ada kesulitan untuk mengadopsi teknologi yang bisa membantu mereka melawan bad actors dan attackers, karena banyak solusi lahir dari kebutuhan enterprise,” katanya.
Kondisi tersebut membuat kelompok usaha di luar perusahaan besar berada pada posisi yang lebih rentan, meski memiliki tingkat ketergantungan yang sama terhadap sistem digital. (*)
Editor: Galih Pratama








