Poin Penting
- Perusahaan multifinance mulai mengandalkan AI untuk mempercepat dan meningkatkan akurasi credit scoring di tengah persaingan ketat dan risiko kredit
- Pemanfaatan AI didorong oleh ledakan data konsumen, namun efektivitasnya sangat bergantung pada kualitas data dan model analitik
- Selain akurasi, kecepatan proses menjadi kunci untuk menjaga pengalaman nasabah dan memenuhi ekspektasi layanan yang instan.
Jakarta – Di tengah ketatnya persaingan industri pembiayaan dan meningkatnya risiko kredit bermasalah, perusahaan multifinance mulai mengandalkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk membaca perilaku calon debitur dengan lebih cepat dan presisi.
Namun di balik pemanfaatan teknologi itu, ada satu hal yang dianggap jauh lebih penting, yakni kualitas data.
Direktur PT Bussan Auto Finance, Yudono Chayadi, mengungkapkan bahwa perusahaannya telah melakukan berbagai uji coba pemanfaatan AI untuk mendukung proses credit scoring dan analisis risiko pembiayaan.
“Kalau dari sisi penggunaan AI untuk credit scoring dan sebagainya, kita memang sudah mencoba beberapa waktu. Ada yang sudah kita maintain, kita tweak juga,” ujar Yudono saat ditemui usai acara RedHat Day di Jakarta, Kamis (30/4).
Baca juga: Saat AI Melaju Kencang, Perusahaan Mulai Dihadapkan Tantangan Baru
Menurutnya, AI dibutuhkan karena perusahaan pembiayaan kini menghadapi ledakan data konsumen yang semakin kompleks.
Mulai dari histori pembayaran, rekam jejak kredit, hingga data dari Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), seluruhnya menghasilkan ribuan titik data yang sulit dianalisis secara manual.
“Ada histori pembayaran, lalu data dari sistem SLIK dan sebagainya. Dengan jumlah data yang luar biasa banyak, kita perlu mencari pattern kira-kira konsumen mana yang potensinya bagus atau tidak layak,” katanya.
Ia menilai teknologi machine learning dan AI mampu membantu perusahaan membaca pola risiko dengan lebih cepat dibanding metode konvensional.
“Nah itu butuh sistem yang cukup smart untuk menganalisa. Kita implementasi AI untuk analitik atau machine learning untuk membantu,” jelasnya.
Meski demikian, Yudono menegaskan AI bukan solusi “ajaib” yang bisa langsung menyelesaikan semua persoalan pembiayaan. Menurutnya, keberhasilan AI sangat bergantung pada kualitas data dan model yang digunakan.
“Tetapi memang kuncinya adalah data dan modelnya. Datanya cukup nggak? Kalau datanya cuma satu ya nggak usah pakai AI,” katanya.
Baca juga: AI Kian Diadopsi Bisnis, Infrastruktur Digital Masih jadi Kendala
Bagi industri multifinance, kecepatan analisis kini menjadi faktor krusial. Konsumen disebut semakin tidak sabar menunggu proses persetujuan kredit yang panjang.
Karena itu, AI dinilai bukan hanya soal akurasi, tetapi juga tentang menjaga pengalaman pelanggan tetap cepat dan efisien.
“Kalau nggak cepat ya bisa sih dianalisa, tapi nanti nasabah datang apply lalu jawabannya seminggu lagi. Saya approve atau nggak. Tapi itu akan menurunkan ekspektasi konsumen atau user experience,” tutup Yudono. (*) Alfi Salima Puteri




