Poin Penting
- OJK menyebut AI akan jadi penentu daya saing industri asuransi, namun human engagement tetap penting menjaga kepercayaan nasabah
- OJK mencatat sebagian perusahaan asuransi masih berisiko tinggi dalam pengelolaan teknologi dan keamanan digital
- Industri asuransi dinilai perlu memanfaatkan AI dan insurtech untuk memperluas inklusi serta mendekatkan layanan ke generasi muda.
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan, transformasi digital dan perkembangan artificial intelligence (AI) akan menjadi faktor penentu daya saing di industri asuransi mendatang.
Namun di tengah percepatan teknologi, human engagement (keterlibatan manusia) dinilai tetap menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan konsumen di sektor jasa keuangan.
Kepala Departemen Aktuaria OJK Yusman, menilai penggunaan AI tak lagi sekadar menjadi alat bantu, melainkan berkembang menjadi infrastruktur utama dalam industri asuransi.
“Artificial intelligence bukan lagi sekadar alat, tetapi akan berkembang menjadi infrastruktur dalam industri keuangan. Perusahaan yang tidak mampu mengikuti percepatan perubahan ini akan semakin sulit bersaing,” ujar Yusman dalam Executive Industry Roundtable bertajuk “Optimizing Insurance Selling with Technology: Transforming Digital Insurance with Augmented Human” di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.
Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menuju ekosistem digital turut menciptakan tantangan baru, mulai dari keamanan siber, perlindungan data pribadi, hingga kebutuhan membangun kepercayaan publik terhadap platform digital.
Berdasarkan hasil review OJK terhadap penerapan manajemen risiko teknologi informasi di industri asuransi, sebanyak 22 persen perusahaan asuransi jiwa dan 18 persen perusahaan asuransi umum masih berada pada kategori risiko tinggi.
Baca juga: Rupiah Tertekan, OJK Tetap Optimistis Kinerja Perbankan Nasional Solid
Yusman bilang, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa sebagian pelaku industri masih perlu memperkuat kesiapan digital dan tata kelola teknologi agar mampu bersaing di tengah percepatan transformasi industri keuangan.
“Penggunaan teknologi bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga bagaimana perusahaan mampu memberikan pelayanan terbaik sekaligus menjaga kepercayaan publik, ” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Departemen Marketing AAJI, Karin Zulkarnaen, melihat transformasi digital justru membuka peluang besar bagi industri asuransi untuk memperluas inklusi dan menjangkau generasi muda.
Ia menyoroti perubahan perilaku konsumen yang kini semakin mengandalkan pencarian informasi secara digital sebelum membeli produk asuransi. Fenomena research online purchase offline (ROPO), menurutnya, menjadi sinyal bahwa perusahaan asuransi perlu memperkuat kehadiran digital agar tetap relevan bagi generasi milenial dan Gen Z.
Baca juga: IHSG Dibuka Merah, Wakil Ketua DPR-Bos OJK Sambangi Gedung BEI
“Kalau kita tidak hadir secara online, maka tidak ada harapan produk kita dilirik oleh generasi muda. Customer journey sekarang sudah berubah, ” kata Karin.
Berdasarkan data AAJI, jumlah tertanggung individu di industri asuransi jiwa saat ini masih relatif rendah dibandingkan total populasi Indonesia. Karena itu, menurut Karin, transformasi digital harus dimanfaatkan untuk membuka akses yang lebih luas terhadap produk asuransi.
“Opportunity industri asuransi sebenarnya masih sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana kita bisa menemukan pendekatan baru agar masyarakat merasa produk asuransi semakin relevan dengan kebutuhan hidup mereka, ” ujarnya.
Di sisi lain, CEO MCorp, Taufik, menilai perkembangan insurtech sebenarnya telah hadir dalam aktivitas sehari-hari masyarakat melalui berbagai platform digital, mulai dari marketplace, aplikasi perjalanan, hingga layanan perbankan digital melalui konsep microinsurance dan embedded insurance.
Menurutnya, tantangan terbesar industri saat ini bukan hanya menghadirkan teknologi, tetapi membangun engagement dan edukasi agar masyarakat memahami manfaat asuransi secara lebih dekat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
“Insurtech sebenarnya sudah digunakan masyarakat tanpa disadari. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan engagement agar teknologi tidak berjalan tanpa interaksi manusia, ”ujar Taufik.
Ia menambahkan, pendekatan augmented human menjadi penting agar transformasi digital tidak hanya berfokus pada efisiensi teknologi, tetapi juga memperkuat hubungan emosional, edukasi, dan pengalaman pelanggan.
Taufik juga menyoroti bahwa teknologi seperti AI dapat membuka peluang baru dalam meningkatkan literasi dan pengalaman nasabah, termasuk membantu menyederhanakan informasi polis, proses klaim, hingga edukasi keuangan yang lebih mudah dipahami masyarakat.
“Teknologi seharusnya membantu masyarakat merasa lebih memahami produk asuransi, bukan justru merasa semakin jauh atau rumit, ” tambahnya.
Selain itu, Taufik menilai industri asuransi perlu mulai membangun pendekatan yang lebih human-centric, termasuk memperluas interaksi tidak hanya kepada pemegang polis, tetapi juga kepada anggota keluarga yang menjadi penerima manfaat asuransi. (*)
Editor: Galih Pratama


