Poin Penting
- Investor masih wait and see meski anggaran MBG dipangkas dan target defisit ditetapkan pemerintah
- Saham bank jumbo masih menopang IHSG, sementara sektor energi dan komoditas tetap menarik
- IHSG sesi I turun 0,60 persen ke 6.332,17, namun sektor perbankan masih menguat 0,30 persen.
Jakarta – Pengamat Pasar Modal, Elandry Pratama, menilai investor masih akan wait and see terhadap situasi ekonomi saat ini meski Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan kisaran defisit antara 1,80-2,40 persen dan memangkas anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi Rp268 triliun.
Elandry menjelaskan, pasar pada awalnya cukup lega setelah anggaran MBG dipangkas, karena dinilai dapat membantu menjaga APBN dan mendorong nilai tukar Rupiah menjadi stabil.
“Tapi setelah pidato Presiden, pasar balik hati-hati lagi karena beberapa target dan program ke depan dinilai cukup ambisius. Investor sekarang lebih fokus lihat realistis atau tidak implementasinya, terutama soal pembiayaan dan dampaknya ke fiskal,” ucap Elandry di Jakarta, 20 Mei 2026.
Baca juga: MSCI Sudah Keluarkan Kartu Merah, Dasco Cs Sudah Datang: Saham Kok Masih Rontok, Sih? Jangan-Jangan Sebagian Besar Saham “Busuk”
Dia melanjutkan, saat ini saham sektor perbankan kapitalisasi pasar jumbo masih cukup menarik dan masih mampu menjadi penopang utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terhadap volatilitas.
“Di tengah ketidakpastian global, sektor energi dan komoditas sebenarnya juga masih oke secara trading karena harga komoditas dunia masih relatif tinggi, walaupun jangka pendek sedang ada tekanan sentimen dari isu badan ekspor komoditas,” imbuhnya.
Baca juga: Bos BEI Optimistis IHSG Bakal Cerah Ditopang Fundamental Ekonomi
IHSG Sesi I Merosot
Adapun, IHSG pada perdagangan sesi I hari ini (20/5) kembali ditutup merosot ke level 6.332,17 atau melemah 0,60 persen, meski sempat menguat pada posisi 6.459,55.
Meski begitu, sektor perbankan menjadi salah satu dari tiga sektor yang masih menguat sekitar 0,30 persen di tengah IHSG yang bergerak fluktuatif. (*)
Editor: Galih Pratama


