Poin Penting
- Bank Mandiri memimpin laba bank KBMI IV pada semester I 2026 dengan laba bersih Rp30,4 triliun, disusul BCA Rp29,5 triliun dan BNI Rp10,8 triliun
- Bank Mandiri dan BCA bersaing ketat di posisi teratas, dengan selisih laba hanya sekitar Rp900 miliar pada semester I 2026
- BNI mencatat pertumbuhan kredit tertinggi di antara tiga bank tersebut sebesar 24,4 persen yoy menjadi Rp968,5 triliun, meski labanya masih berada di bawah Mandiri dan BCA.
Jakarta – Tiga big banks yang terdiri dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia (BBCA) dan PT Bank Negara Indonesia (BBNI), telah melaporkan kinerja sepanjang enam bulan tahun 2026. Hasilnya, persaingan bank kelompok KBMI IV tersebut semakin menarik.
Jika dilihat dari perolehan laba, Bank Mandiri memimpin dengan laba bersih konsolidasi sebesar Rp30,4 triliun, tumbuh 24,4 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Di posisi kedua, BCA membukukan laba bersih Rp29,5 triliun, sementara BNI mencatatkan laba Rp10,8 triliun atau tumbuh 6,5 persen yoy.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa bank-bank KBMI IV masih mampu menjaga profitabilitas di tengah dinamika industri perbankan dan kondisi ekonomi yang terus berubah.
Pertumbuhan laba juga ditopang oleh ekspansi kredit, penguatan pendanaan, serta pengelolaan risiko yang tetap menjadi perhatian masing-masing bank.
Baca juga: Laba Bank Mandiri Melonjak, Kredit Tumbuh 19,9 Persen Lampaui Industri
Bank Mandiri Pimpin Laba KBMI IV
Bank Mandiri menjadi bank dengan perolehan laba bersih terbesar pada semester I 2026. Laba konsolidasi perseroan mencapai Rp30,4 triliun atau tumbuh 24,4 persen yoy, didukung pendapatan yang meningkat 10,3 persen yoy.
Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan ekspansi kredit yang tetap kuat. Secara bank only, penyaluran kredit Bank Mandiri mencapai Rp1.592 triliun per Juni 2026, tumbuh 19,9 persen yoy.
Pertumbuhan ini jauh melampaui rata-rata pertumbuhan kredit industri yang sebesar 12,7 persen yoy pada periode yang sama.
Direktur Commercial Banking Bank Mandiri Totok Priyambodo mengatakan, pertumbuhan laba tersebut merupakan hasil dari ekspansi kredit yang sehat dan terarah.
“Pencapaian laba ini adalah hasil dari kualitas ekspansi kredit yang kami jaga, dengan penyaluran yang difokuskan ke sektor produktif dan padat karya, sehingga berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja di berbagai wilayah Indonesia,” ucap Totok dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026.
Dari sisi pendanaan, DPK bank only Bank Mandiri mencapai Rp1.710 triliun, tumbuh 17,1 persen yoy. Pertumbuhan tersebut juga berada di atas pertumbuhan DPK industri yang sebesar 10,2 persen yoy.
Ekspansi kredit turut ditopang pembiayaan pada ekosistem pemerintahan dan BUMN. Per Juni 2026, kredit pada segmen tersebut mencapai Rp489 triliun atau tumbuh 41,6 persen yoy, yang disalurkan untuk proyek strategis, infrastruktur, energi, pertahanan, hingga layanan publik.
Sementara itu, kredit usaha mikro tumbuh 15,7 persen yoy menjadi Rp31,3 triliun. Bank Mandiri menegaskan ekspansi tersebut tetap dilakukan dengan prinsip kehati-hatian.
BCA Kejar Mandiri, Laba Rp29,5 Triliun
Di posisi kedua, BCA membukukan laba bersih konsolidasi Rp29,5 triliun hingga semester I 2026. Perolehan tersebut ditopang pertumbuhan kredit dan peningkatan pendapatan nonbunga.
Untuk pertama kalinya, penyaluran kredit BCA menembus Rp1.000 triliun. Per Juni 2026, kredit BCA tumbuh 8 persen yoy menjadi Rp1.036 triliun.
“BCA dan entitas anak menjaga penyaluran kredit secara prudent ke berbagai sektor sejalan dengan komitmen perusahaan mendukung perekonomian nasional,” ujar Hendra Lembong, Presiden Direktur BCA dalam konferensi pers kinerja BCA semester I 2026, Selasa, 26 Juli 2026.
Dari total kredit tersebut, pembiayaan produktif mencapai Rp802 triliun atau meningkat 11 persen yoy. Kredit korporasi tumbuh 13,6 persen yoy menjadi Rp513,4 triliun, sedangkan kredit komersial dan UKM tumbuh 6,6 persen yoy menjadi Rp288,5 triliun.
“Kinerja BCA pada paruh pertama 2026 ditopang berbagai hal seperti BCA Expoversary 2026 dan penyaluran kredit produktif ke berbagai sektor. Kami memastikan penyaluran kredit BCA dilakukan dengan selalu mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas perusahaan,” jelasnya.
Kualitas aset BCA juga masih terjaga. Rasio LAR berada di level 4,9 persen, sedangkan NPL tercatat 1,9 persen.
Pada saat yang sama, pendapatan nonbunga BCA mencapai Rp13,2 triliun atau tumbuh 11 persen yoy. Dari sisi funding, DPK meningkat 7,9 persen yoy menjadi Rp1.284 triliun dengan CASA mencapai 84,3 persen dari total DPK.
BNI Fokus Pertumbuhan Berkualitas
Sementara itu, BNI berada di posisi ketiga dengan laba bersih Rp10,8 triliun pada semester I 2026. Laba tersebut tumbuh 6,5 persen yoy, sejalan dengan penguatan fundamental bisnis dan pertumbuhan kredit.
Kredit BNI hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp968,5 triliun atau tumbuh 24,4 persen yoy. Ekspansi tersebut diikuti perbaikan kualitas aset, tercermin dari LAR yang turun menjadi 8,1 persen dari sebelumnya 11 persen. Adapun NPL berada di level 1,9 persen.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, pertumbuhan kredit yang sehat dan terdiversifikasi, struktur pendanaan yang kuat, kualitas aset yang terjaga, serta transformasi bisnis menjadi fondasi perseroan dalam menjaga pertumbuhan berkelanjutan.
“Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen,” jelas Putrama, Rabu, 5 Agustus 2026.
Baca juga: Kredit Tumbuh 24,4 Persen, BNI Kantongi Laba Rp1,08 Triliun di Semester I 2026
Dari sisi pendanaan, CASA BNI tumbuh 11,2 persen dengan rasio CASA terhadap total DPK mencapai 65,4 persen. Cost of fund DPK juga membaik menjadi 2,56 persen dari 2,78 persen pada Juni 2025.
Penguatan pendapatan turut menjadi penopang laba. Net interest income (NII) BNI tumbuh 14,2 persen menjadi Rp22,3 triliun, sedangkan fee based income (FBI) naik 14,2 persen menjadi Rp9 triliun.
Kinerja tersebut membuat laba operasional BNI mencapai Rp18,5 triliun, menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah perseroan untuk periode semester pertama.
“Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi,” papar Paolo. (*)


