Poin penting:
- Sebanyak 95 persen pos tarif IEU-CEPA akan langsung menjadi nol setelah perjanjian berlaku.
- Pembukaan pasar menciptakan peluang ekspor sekaligus meningkatkan tekanan impor dari Eropa.
- Pemerintah berharap IEU-CEPA membuka investasi baru melalui akses pasar yang lebih luas.
Jakarta – Pembukaan pasar lewat 95 persen pos tarif Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IEU-CEPA membawa peluang ekspor sekaligus tekanan baru. Industri domestik harus bersiap menghadapi persaingan produk Eropa yang semakin terbuka.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut tarif tersebut menjadi nol secara langsung. Kebijakan itu menjadi salah satu perubahan besar dalam hubungan ekonomi Indonesia-Uni Eropa.
“Indonesia nanti 95 persen pos tarifnya langsung menjadi 0 persen,” kata Airlangga di Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026.
Baca juga: UE Dorong IEU-CEPA Segera Ditandatangani, RI Targetkan Oktober 2026
Buka Pasar Dua Arah
Penurunan tarif tidak hanya memperluas peluang produk Indonesia memasuki pasar Eropa. Kebijakan serupa juga membuka akses lebih besar bagi produk Eropa masuk Indonesia.
“Bagi Uni Eropa akses pasar Indonesia tentu diharapkan bagi industri maupun konsumen yang akan melakukan impor dan ekspor,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat industri Indonesia menghadapi persaingan yang lebih terbuka. Terlebih, Uni Eropa memiliki kekuatan besar pada manufaktur dan inovasi teknologi.
IEU-CEPA Dorong Investasi Eropa
Airlangga melihat pembukaan akses pasar sebagai pintu masuk investasi baru. Pemerintah berharap ratifikasi perjanjian tersebut dapat membuka potensi investasi Eropa di Indonesia.
Menurut Airlangga, Eropa sudah menjadi salah satu mitra investasi Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah negara Eropa juga membawa delegasi bisnis besar ke Indonesia.
Jerman disebut telah mengirimkan delegasi bisnis sebanyak dua kali. Delegasi dari Prancis dan negara Eropa lainnya juga mulai meningkatkan kunjungan ke Indonesia.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Denis Chaibi menilai implementasi perjanjian akan memperkuat minat perusahaan Eropa. Ia menyebut proses ratifikasi dapat memicu investasi yang kuat di Indonesia.
IEU-CEPA Hadirkan Persaingan Baru
Pembukaan pasar tersebut membuat industri domestik tidak hanya mengejar peluang ekspor. Pelaku usaha juga perlu menghadapi masuknya produk Eropa dengan tarif yang lebih rendah.
Airlangga menyebut sektor energi terbarukan, digital, dan keamanan siber menjadi perhatian bersama. Sektor pertanian juga masuk dalam daftar bidang yang dibahas kedua pihak.
Eropa memiliki keunggulan dalam manufaktur dan inovasi teknologi. Indonesia berharap kekuatan tersebut dapat berkembang menjadi investasi dan kemitraan ekonomi.
Airlangga menilai hubungan ekonomi kedua kawasan memiliki sejarah panjang. Karena itu, kerja sama baru diharapkan menghasilkan manfaat yang lebih setara bagi kedua pihak.
Baca juga: UE Soroti Stabilitas RI, Investor Tunggu Kepastian Kebijakan
Pemerintah menargetkan perjanjian ditandatangani pada Oktober 2026. Setelah itu, IEU-CEPA akan memasuki proses ratifikasi oleh kedua pihak.
Indonesia telah menyiapkan perjanjian pelaksanaan serta peraturan pemerintah sebagai turunannya. Langkah tersebut ditujukan untuk mempercepat pelaksanaan setelah ratifikasi selesai.
Pemerintah juga memperhatikan berakhirnya fasilitas GSP Indonesia pada akhir 2026. Airlangga berharap implementasi perjanjian dapat mencegah munculnya jeda fasilitas perdagangan.
Dengan 95 persen pos tarif IEU-CEPA menjadi nol, peluang pasar Indonesia semakin terbuka. Namun, industri domestik juga harus meningkatkan daya saing menghadapi produk Eropa. (*)
Editor: Galih Pratama


