Poin Penting
- Waskita Karya pernah mengerjakan renovasi Ma’taf Masjidil Haram yang meningkatkan kapasitas jemaah dari 48 ribu menjadi lebih dari 105 ribu orang.
- Perseroan telah menyelesaikan berbagai proyek strategis di Arab Saudi, termasuk KAFD, King Saud Fitness College, dan King Faisal Specialist Hospital.
- Waskita Karya berencana memperluas ekspansi proyek internasional dengan membidik peluang infrastruktur di Arab Saudi dan Timur Tengah.
Jakarta – PT Waskita Karya (Persero) Tbk terus memperluas kiprahnya di sektor konstruksi, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di pasar internasional, khususnya kawasan Timur Tengah. Perseroan menjadi salah satu perusahaan konstruksi nasional yang memiliki lisensi operasional lengkap serta kehadiran resmi di Arab Saudi.
Dengan berbagai lisensi tersebut, Waskita Karya dapat berpartisipasi dalam sejumlah proyek konstruksi di kawasan Timur Tengah. Perseroan pun telah menyelesaikan berbagai proyek strategis di Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir.
Salah satu proyek paling monumental yang pernah dikerjakan adalah renovasi area terbuka yang mengelilingi Ka’bah atau Ma’taf di Masjidil Haram. Proyek yang dilaksanakan pada 2013 itu merupakan bagian dari program perluasan King Abdullah Makkah Extension (KAME) dengan nilai kontrak mencapai 59 juta riyal Saudi.
Baca juga: Waskita Karya Kantongi Kontrak Baru Rp3,1 Triliun per Maret 2026
Renovasi dilakukan untuk meningkatkan kapasitas area tawaf sehingga mampu menampung lebih banyak jemaah dan memberikan kenyamanan yang lebih baik saat beribadah.
Memasuki musim haji, Masjidil Haram kembali dipadati jutaan umat Islam dari berbagai negara. Jemaah asal Indonesia menjadi salah satu yang terbesar dengan jumlah mencapai 221 ribu orang.
“Sebelumnya mataf hanya dapat menampung 48 ribu jemaah, namun setelah direnovasi bisa memuat hingga lebih dari 105 ribu jemaah. Bagi Waskita, memperluas Mataf Masjidil Haram bukan sekadar mengerjakan proyek, tapi wujud komitmen kami dalam menghadirkan infrastruktur yang bermanfaat bagi dunia internasional, apalagi Masjidil Haram merupakan tempat suci dan spiritual yang selalu menjadi tujuan masyarakat dunia,” ujar Corporate Secretary Waskita Karya Ermy Puspa Yunita dalam keterangan resmi, Rabu, 3 Juni 2026.
Gunakan Metode Konstruksi Khusus
Ermy menjelaskan, proyek tersebut menggunakan metode formwork slab dan cantilever beam sebagai cetakan sementara untuk membentuk struktur beton sesuai desain yang direncanakan. Metode ini dinilai mampu meningkatkan presisi pekerjaan sekaligus menghemat waktu dan biaya konstruksi.
Selain itu, pada bagian bekisting dinding balok digunakan panel baju, sedangkan bagian bawahnya menggunakan triplek dan peri kayu.
Baca juga: Purbaya-Bahlil Kompak Genjot PNBP dan Swasembada Energi
Bangun Kampus, Rumah Sakit hingga Kawasan Finansial
Ma’taf Masjidil Haram bukan satu-satunya proyek yang berhasil diselesaikan Waskita Karya di Arab Saudi. Perseroan juga membangun sejumlah infrastruktur penting lainnya.
Pada 2011, Waskita Karya menyelesaikan pembangunan King Saud Fitness College dengan nilai kontrak 16 juta riyal Saudi. Sebelumnya, pada 2009, Perseroan membangun King Saud University of Riyadh Techno Valley & Building Administration College di Riyadh dengan nilai proyek 50 juta riyal Saudi.
Selanjutnya, pada periode 2010-2012, Waskita Karya turut membangun King Abdullah Financial District (KAFD) yang terdiri dari 31 lantai. Perseroan juga terlibat dalam pembangunan Jeddah Flyover dan King Faisal Specialist Hospital di Jeddah.
“Pembangunan sejumlah proyek di Arab Saudi memperkuat posisi Waskita Karya sebagai perusahaan kontraktor yang telah berpengalaman selama 65 tahun mengerjakan lebih dari 100 infrastruktur dalam 10 tahun terakhir, seperti gedung pencakar langit, masjid, sekolah, infrastruktur konektivitas, bandara, infrastruktur air, dan sebagainya. Tidak hanya secara nasional tapi juga internasional,” tegas Ermy.
Bidik Peluang Proyek Baru di Timur Tengah
Ke depan, Waskita Karya berkomitmen memperluas portofolio proyek internasional, terutama di Arab Saudi dan negara-negara Timur Tengah lainnya.
Perseroan optimistis dapat menangkap peluang tersebut melalui berbagai strategi, termasuk menjalin kemitraan strategis dengan mitra lokal maupun global. Langkah itu diharapkan dapat memperbesar peluang perusahaan untuk mengikuti tender dan memenangkan proyek-proyek infrastruktur baru di kawasan tersebut. (*)


