Poin Penting
- Utang luar negeri perbankan nasional naik menjadi USD31,44 miliar pada Februari 2026, dari USD30,99 miliar di Januari 2026
- Kontributor terbesar berasal dari bank swasta nasional (USD20,63 miliar), diikuti bank BUMN (USD5,50 miliar), sementara bank campuran turun dan bank asing naik tipis
- Secara keseluruhan, ULN swasta mencapai USD193,7 miliar (turun 0,7 persen yoy), didominasi utang jangka panjang (76 persen) dan sektor industri pengolahan serta jasa keuangan.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) perbankan nasional pada Februari 2026 sebesar USD31,44 miliar. Nilai tersebut meningkat dibandingkan Januari 2026 yang sebesar USD30,99 miliar.
Berdasarkan data dari buku Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi Maret 2026, posisi ULN swasta menurut kelompok peminjam khususnya perbankan mengalami peningkatan maupun penurunan pada seluruh kategori.
Secara rinci, ULN terbesar berasal dari bank swasta nasional sebesar USD20,63 miliar, naik tipis dari USD20,05 miliar pada Januari 2026.
Posisi berikutnya ditempati bank BUMN dengan ULN sebesar USD5,50 miliar, turun dibandingkan Januari 2026 sebesar USD5,42 miliar.
Baca juga: Penerbitan Surat Utang Korporasi Tembus Rp59,4 Triliun di Kuartal I 2026
Sementara itu, bank swasta campuran mencatat ULN sebesar USD4,87 miliar, turun dari USD5,08 miliar pada Januari 2026.
Adapun bank swasta asing membukukan ULN sebesar USD428 juta, meningkat dibandingkan Januari 2026 sebesar USD425 juta.
Secara keseluruhan, posisi ULN swasta pada Februari 2026 tercatat sebesar USD193,7 miliar, atau secara tahunan tercatat turun 0,7 persen year on year (yoy).
Perkembangan ULN swasta tersebut dipengaruhi oleh kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) dan perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) yang masing-masing turun 2,8 persen (yoy) dan 0,2 persen (yoy).
Baca juga: Utang Luar Negeri RI Naik jadi USD437,9 Miliar di Februari 2026
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 80,3 persen terhadap total ULN swasta.
ULN swasta didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,0 persen terhadap total ULN swasta. (*)
Editor: Galih Pratama







