- Tabungan Simpeda Bank Jateng mencapai Rp2,23 triliun per Desember 2025, naik 12,39% YoY dengan 155.059 nasabah.
- Rasio CASA mencapai 48,27% dari total DPK Rp74,91 triliun, didominasi nasabah ritel sehingga likuiditas lebih stabil.
- Bank Jateng mengandalkan Simpeda, Tabungan Bima, digitalisasi (Bima Mobile), serta dukungan UMKM dan QRIS untuk mendorong pertumbuhan.
Surakarta – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah atau BPD Jateng menunjukkan penguatan pada basis dana ritel melalui produk Tabungan Simpeda. Hingga akhir 2025, produk ini mencatat pertumbuhan konsisten baik dari sisi nominal simpanan maupun jumlah nasabah.
Per Desember 2025, total simpanan Tabungan Simpeda mencapai Rp2,23 triliun, meningkat 12,39 persen secara tahunan (YoY). Jumlah penabung tercatat sebanyak 155.059 nasabah.
Direktur Bisnis Dana, Jasa dan UMKM Bank Jateng, Anna Kusumarita, menyebut capaian tersebut mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap produk tabungan ritel.
“Di Bank Jateng sendiri tentu kami juga memiliki jumlah rekening dan simpanan yang cukup banyak untuk khususnya produk Simpeda ini. Jumlah penabung per Desember 2025 yaitu 155.059 orang nasabah, ada pun saldonya Rp2.232.870.566.499, itu per 31 Desember 2025,” kata Anna kepada Infobanknews di sela-sela acara penyegelan Undian Tabungan Simpeda Periode ke-2 Tahun XXXVI-2026 di Surakarta, Jawa Tengah, Rabu, 15 April 2026.
Adapun kontribusi Simpeda terhadap total tabungan konvensional Bank Jateng mencapai 8,58 persen, dari total tabungan yang sebesar Rp26,01 triliun.
Baca juga: Asbanda Segel Alat Undian Simpeda 2026, Bank Jateng Siap Gelar Puncak Acara di Solo
Di tengah kompetisi perbankan, Bank Jateng menegaskan posisinya sebagai salah satu BPD dengan rasio dana murah (CASA) yang kuat. Dari total Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp74,91 triliun, porsi dana murah mencapai 48,27 persen.
Menurut Anna, dominasi dana ritel menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas likuiditas bank.
Simpeda dan Bima jadi Andalan
Ke depan, lanjut Anna, Bank Jateng akan terus mengandalkan produk tabungan untuk memperkuat penghimpunan dana murah, terutama melalui Simpeda sebagai produk bersama BPD nasional.
“Simpeda itu merupakan produk tabungan yang menjadi pemersatu dan andalan dari seluruh BPD yang ada di Indonesia,” ujarnya.
Baca juga: Ketua Asbanda: BPD Harus jadi Orkestrator Keuangan Daerah, Bukan Sekadar Penyalur Dana
Selain itu, Anna menyampaikan, Bank Jateng juga mengoptimalkan Tabungan Bima sebagai produk unggulan internal. Skema undian dua kali setahun menjadi strategi untuk meningkatkan engagement nasabah.
“Semakin banyak nanti menabung maka nasabah memperoleh poin untuk nanti diikut sertakan dalam undian tabungan Bima Bank Jateng yang dilakukan dua kali dalam satu tahun,” katanya.
Digitalisasi Perluas Akses Layanan
Selain itu, kata Anna, transformasi digital menjadi pilar lain dalam strategi Bank Jateng. Melalui aplikasi Bima Mobile, nasabah dapat mengakses layanan perbankan secara fleksibel.
“Bank Jateng memiliki produk yang namanya Bima Mobile jadi kita bisa melakukan transaksi perbankan kapan pun, di mana pun, di dalam genggaman kita melalui handphone kita,” ujar Anna.
Baca juga: Begini Strategi Bank Jateng Genjot Kredit Kendaraan Bermotor
Digitalisasi, tuturnya, juga menyasar layanan publik, termasuk pembayaran pajak daerah, retribusi, hingga pajak kendaraan bermotor secara nontunai.
Perkuat UMKM dan Ekonomi Daerah
Lebih lanjut, Anna mengatakan, peran Bank Jateng tidak hanya pada penghimpunan dana, tetapi juga dalam mendorong ekonomi daerah. Kegiatan undian Simpeda di Kota Bengawan turut melibatkan pelaku UMKM untuk menggerakkan ekonomi lokal. “Sekaligus untuk menggerakkan roda perekonomian Jawa Tengah, khususnya di Surakarta melalui UMKM,” ujarnya.
Selain itu, Bank Jateng juga menyediakan fasilitas pembayaran berbasis QRIS untuk mempermudah transaksi digital bagi pelaku usaha.
Baca juga: Transaksi QRIS Melesat, Tumbuh 131,47 Persen di Januari 2026
Target Sejalan Program Pemda
Untuk target hingga akhir 2026, Bank Jateng menegaskan akan tetap selaras dengan program pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
Fokusnya diarahkan pada pengelolaan kas daerah, penguatan UMKM, peningkatan DPK, dan digitalisasi layanan publik.
“Kami ingin menjadi bank yang tepercaya kebanggaan masyarakat Jawa Tengah dan menjadi pusat transaksi dari masyarakat Jawa Tengah,” imbuh Anna.
Adapun Bank Jateng menargetkan dana tabungan perseroan bisa tumbuh mencapai 2,84 persen atau sebesar Rp26,75 triliun pada akhir tahun ini.
“Kalau untuk Tabungan Simpeda dari posisi Desember 2025 Rp2,23 trilun, ya kita targetkan bertambah menjadi Rp3,1 triliun pada akhir tahun ini,” tutupnya. (*)







