Poin Penting
- Uang beredar M2 April 2026 mencapai Rp10.253,7 triliun, tumbuh 9,2 persen yoy, melambat dari Maret 2026
- Pertumbuhan M2 didorong M1 yang naik 13,6 persen yoy dan uang kuasi 4,7 persen yoy
- Kredit April 2026 tumbuh 9,4 persen yoy, sementara tagihan bersih ke pemerintah naik 38,6 persen yoy.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh positif. Pada April 2026 posisi M2 tercatat sebesar Rp10.253,7 triliun, atau tumbuh 9,2 persen secara tahunan (year on year/yoy). Ini melambat dari pertumbuhan bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 9,7 persen (yoy).
Berdasarkan komponennya, Analisis Perkembanagan Uang Beredar menyebut perkembangan M2 didukung oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 13,6 persen (yoy) dan uang kuasi sebesar 4,7 persen (yoy).
Secara rinci, M1 dengan pangsa 57,9 persen dari M2, pada April 2026 tercatat Rp5.936,1 triliun atau tumbuh sebesar 13,6 persen (yoy).
Perkembangan M1 dipengaruhi oleh pertumbuhan giro rupiah sebesar 21,3 persen (yoy). Ini melanjutkan pertumbuhan pada Maret yang tumbuh sebesar 26,4 persen (yoy).
Baca juga: Misbakhun Sebut Krisis 1998 Tak Bisa Disamakan dengan Kondisi Rupiah saat Ini
Demikian juga tabungan rupiah ditarik sewaktu-waktu tumbuh 7,1 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.
Sementara itu, uang kartal di luar bank umum dan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) pada April 2026 tercatat sebesar Rp1.186,3 triliun, atau tumbuh sebesar 15,7 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 10,8 persen (yoy).
Selanjutnya, uang kuasi dengan pangsa 41,5 persen dari M2 pada April 2026 tercatat tumbuh positif sebesar 4,7 persen (yoy) menjadi Rp4.253,6 triliun, melanjutkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 5,2 persen (yoy).
Perkembangan tersebut disebabkan oleh pertumbuhan giro valas sebesar 0,6 persen (yoy), dibandingkan pertumbuhan pada Maret 2026 sebesar 4,3 persen (yoy).
Sementara itu, simpanan berjangka dan tabungan lainnya masing-masing tumbuh sebesar 4,6 persen (yoy) dan 17,4 persen (yoy), setelah pada bulan sebelumnya tumbuh sebesar 4,4 persen (yoy) dan 16,2 persen (yoy).
Baca juga: Jangan Selalu Salahkan Global, Ini Penyebab Rupiah Terus Melemah
Perkembangan M2 pada April 2026 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus). Tagihan bersih sistem moneter kepada Pempus tumbuh sebesar 38,6 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 39,1 persen (yoy).
Sementara itu, penyaluran kredit pada April 2026 tercatat sebesar Rp8.606,6 triliun atau tumbuh 9,4 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 8,9 persen (yoy).
Aktiva luar negeri bersih tumbuh sebesar 3,7 persen (yoy), meningkat dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 2,7 persen (yoy). (*)
Editor: Galih Pratama


