Poin Penting
- Melimpahnya kapasitas pasar mendorong penurunan harga dan pelonggaran terms and conditions, sehingga meningkatkan tantangan industri dalam menjaga kualitas portofolio dan profitabilitas
- Tugure mengingatkan, pertumbuhan agresif, under-pricing, dan lemahnya cadangan serta tata kelola dapat memperbesar kerentanan perusahaan ketika pasar kembali memasuki fase hard market
- Tugure menekankan pentingnya technical pricing, kecukupan cadangan, governance yang kuat, serta peningkatan kualitas data dan pemodelan risiko untuk menghadapi perubahan siklus pasar.
Jakarta – Industri reasuransi tengah menghadapi tekanan baru dalam penetapan harga (reinsurance pricing) di tengah kondisi soft market. Melimpahnya kapasitas pasar mendorong penurunan harga sekaligus pelonggaran terms and conditions, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku industri dalam menjaga kualitas bisnis dan profitabilitas.
Dinamika tersebut menjadi sorotan dalam Tugure Sharing Session bertajuk “Reinsurance Pricing Assessment” yang diselenggarakan PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure).
Forum ini membahas perkembangan penetapan harga reasuransi, dinamika pasar, serta berbagai tantangan yang harus dihadapi industri di tengah perubahan kondisi pasar yang semakin kompetitif.
Direktur Operasional Tugure, Erwin Basri, menyampaikan bahwa kondisi pasar retrosesi secara umum hingga saat ini masih relatif stabil. Namun demikian, dinamika industri tetap perlu menjadi perhatian bersama, khususnya dengan adanya risiko catastrophe (CAT) seperti gempa bumi, serta kondisi pasar yang masih mengalami softening.
“Di tengah risiko gempa dan kondisi softening market, tentunya kita perlu bersama-sama mencermati perkembangan yang terjadi agar dapat menjaga kondisi bisnis tetap sehat,” ujar Erwin dikutip 1 September 2026.
Baca juga: Tugu Insurance Raih Dua Pengakuan Bergengsi, Perkuat Posisi di Industri Asuransi
Selanjutnya, Andriansyah, Technical Analytic & Development Group Head Tugure, pada sharing session kali ini membahas perkembangan reinsurance pricing, siklus pasar, serta pembelajaran dari berbagai kejadian di industri perasuransian global.
Salah satu studi kasus yang diangkat adalah HIH Insurance, perusahaan asuransi Australia yang mengalami keruntuhan pada 2001. Kasus ini menjadi salah satu kegagalan korporasi terbesar dalam sejarah Australia.
Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi ekspansi agresif, akuisisi perusahaan asuransi lain, soft market, under-pricing, dan under-reserving.
Kasus tersebut menjadi pembelajaran bahwa pertumbuhan bisnis yang agresif pada saat soft market, apabila tidak diimbangi disiplin pricing, kecukupan cadangan, dan governance yang kuat, dapat meningkatkan kerentanan perusahaan ketika siklus pasar berubah.
“Hal ini menjadi pengingat bahwa pricing merupakan salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan seluruh pelaku industri. Kondisi pasar saat ini membuat tantangan tersebut menjadi semakin besar. Ketika pasar menetapkan harga di bawah technical pricing, pada dasarnya industri sedang menabung risiko yang lebih tinggi untuk masa depan,” jelas Andriansyah.
Menurut Andriansyah, kondisi soft market saat ini turut dipengaruhi performa industri asuransi dan reasuransi global yang relatif baik, termasuk di Eropa, sehingga mendorong kompetisi dan memberikan tekanan terhadap pricing maupun terms and conditions.
“Periode ini perlu dicermati karena penurunan harga dan pelonggaran terms berpotensi menghasilkan portofolio dengan tingkat risiko lebih tinggi ketika pasar kembali memasuki fase hard market,” kata Adnriansyah.
Sejumlah pola kegagalan yang berulang di industri (recurring failure patterns) juga menjadi perhatian, antara lain aggressive growth during soft market, under-reserving, weak governance, dan concentration of risk at cycle turns.
Karena itu, disiplin pricing dan kualitas portofolio menjadi faktor penting dalam menghadapi perubahan siklus pasar.
Dalam konteks tersebut, Tugure menerapkan technical pricing integrity sebagai acuan utama dalam penetapan harga.
Setiap penetapan harga mengacu pada technical pricing, dan penyimpangan dari acuan tersebut hanya dapat dilakukan melalui persetujuan Underwriting Committee dengan justifikasi teknis yang terdokumentasi, sehingga risiko tetap terkelola. Penerapan IFRS 17 (PSAK 117) juga mendorong peningkatan disiplin pencadangan dan pengelolaan kecukupan cadangan teknis.
“Yang akan mampu bertahan dalam kondisi soft market adalah perusahaan yang tetap disiplin dalam pricing, memiliki governance yang kuat dalam pricing dan cadangan teknis, serta terus mempersiapkan diri menghadapi next cycle,” ujar Andriansyah.
Baca juga: Kolaborasi Tugu Insurance dan Pertamina Foundation Perkuat Literasi Keuangan UMKM
Tugure juga terus mengembangkan fungsi pricing melalui Underwriting Committee, meningkatkan kualitas data dan pemodelan portofolio, serta mendorong pengembangan talent and culture dan keterlibatan aktuaris dalam proses underwriting.
Pembahasan yang menarik lainnya adalah soal prediksi titik terendah siklus (bottom of the cycle) dari kondisi soft market.
Terkait hal ini, Andriansyah menjelaskan bahwa berdasarkan pengalaman historis, perubahan arah pasar umumnya dipengaruhi oleh terjadinya sejumlah catastrophic events (CAT) berskala besar.
Hal lain yang patut disoroti adalah kondisi CAT di Indonesia. Meskipun pada 2025 terdapat sejumlah kejadian CAT yang cukup besar, dampaknya terhadap harga di pasar reasuransi domestik relatif belum terasa, karena pasar reasuransi global masih berada dalam fase soft market dengan kapasitas yang berlimpah.
Kondisi ini menahan Combined Operating Ratio (COR) pada level yang belum sepenuhnya mencerminkan eksposur risiko yang ditanggung — sehingga justru menambah kerentanan pasar ketika siklus berbalik arah. (*)


