Poin Penting:
- Donald Trump dilaporkan sempat membahas kemungkinan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran bersama sejumlah pejabat senior pemerintahannya.
- Upaya diplomasi AS dan Iran belum menghasilkan terobosan meski kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata pada April.
- Bentrokan terbaru di Teluk Persia dan Teluk Oman mendorong Iran menutup Selat Hormuz karena alasan keamanan.
Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan sempat mempertimbangkan opsi penggunaan senjata nuklir terhadap Iran guna mempercepat berakhirnya konflik yang berlangsung antara kedua negara. Informasi tersebut diungkapkan jurnalis peraih Hadiah Pulitzer, Seymour Hersh, berdasarkan sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan di lingkaran pemerintahan AS.
Dalam laporannya yang dipublikasikan melalui platform Substack pada Rabu (10/6/2026), Hersh menyebut diskusi mengenai kemungkinan penggunaan senjata nuklir masih menjadi bahan pembicaraan di antara sejumlah pejabat senior pemerintahan dan presiden yang disebut tengah frustrasi menghadapi perkembangan konflik.
Laporan itu muncul ketika hubungan Washington dan Teheran kembali berada dalam fase tegang meski sebelumnya kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata setelah serangkaian serangan militer yang terjadi sejak akhir Februari lalu.
Baca juga: Tim Perunding AS-Iran Sepakat Gencatan Senjata 60 Hari
Diskusi Nuklir Disebut Masih Berlangsung di Lingkaran Trump
Menurut Hersh, sejumlah sumber mengungkapkan bahwa pembahasan mengenai opsi nuklir masih berlangsung di tingkat pemerintahan AS. Ia menulis bahwa diskusi tersebut terjadi antara beberapa anggota senior pemerintahan dan “presiden yang tengah frustrasi.”
Sebelumnya, pada 28 Februari, AS bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan itu dilaporkan menimbulkan kerusakan serta korban sipil.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah. Ketegangan yang meningkat mendorong kedua negara mengumumkan gencatan senjata pada 7 April.
Namun, upaya diplomasi yang dilanjutkan melalui pembicaraan di Islamabad tidak menghasilkan terobosan berarti. Hingga kini, proses negosiasi antara Iran dan AS disebut masih berlangsung dengan fokus pada penyusunan kerangka nota kesepahaman, meski kedua pihak masih kerap melakukan serangan terisolasi.
Indonesia Serukan AS dan Iran Kembali ke Meja Perundingan
Di tengah meningkatnya eskalasi konflik, Indonesia menyerukan agar Amerika Serikat dan Iran kembali menahan diri serta mematuhi gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya.
“Kita tentu ingin terus mendorong agar para pihak segera kembali ke meja perundingan, kembali mewujudkan gencatan senjata,” kata Wakil Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir di Kompleks Parlemen Jakarta, seperti dikutip dari Antara.
Baca juga: Dampak Putusan Kongres AS Meloloskan War Powers Resolution terhadap Perang Iran
Usai rapat kerja dengan Komisi I DPR RI, Arrmanatha menyatakan Indonesia menyesalkan kembali terjadinya saling serang antara AS dan Iran yang memicu ketegangan baru di kawasan Selat Hormuz.
Menurutnya, konflik yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada masyarakat di negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga berpotensi memengaruhi banyak negara lain.
“Kita pun kembali menyerukan agar semua pihak segera kembali melakukan gencatan senjata dan melakukan perundingan,” ujar Arrmanatha.
Selat Hormuz Ditutup Setelah Bentrokan Militer Terbaru
Ketegangan kembali meningkat setelah bentrokan antara pasukan Iran dan AS pecah pada Kamis dini hari waktu setempat di perairan Teluk Persia dan Teluk Oman.
Laporan awal menyebut sejumlah kapal AS yang berada di sekitar Selat Hormuz menjadi sasaran serangan rudal dan drone yang diluncurkan angkatan bersenjata Iran. Ledakan juga dilaporkan terdengar di wilayah Sirik, Minab, Bandar Abbas, serta pulau Qeshm dan Hengam di Provinsi Hormozgan.
Sementara itu, sistem pertahanan udara Iran diaktifkan di wilayah barat Teheran dan Provinsi Fars di bagian selatan negara tersebut.
Baca juga: Piala Dunia 2026 Bergulir, Simak Jadwal Lengkap Laga Pekan Pertama
Menyusul perkembangan itu, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya mengumumkan penutupan penuh Selat Hormuz untuk seluruh jenis kapal, termasuk kapal tanker minyak dan kapal niaga, dengan alasan ancaman keamanan terhadap jalur pelayaran tersebut.
Rangkaian ketegangan yang bermula dari serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari terus memicu konfrontasi militer, serangan balasan, dan tekanan diplomatik. Di tengah situasi tersebut, laporan mengenai pembahasan opsi nuklir oleh pemerintahan Trump menambah kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan. (*)
Editor: Yulian Saputra


