Poin Penting
- Trimegah Sekuritas menilai penurunan IPO 2026 dipicu kondisi pasar yang belum kondusif
- OJK dan BEI memperketat persyaratan pencatatan saham untuk memastikan kualitas emiten yang masuk bursa
- Trimegah memperkirakan aktivitas IPO dapat meningkat pada akhir 2026 seiring penggunaan laporan keuangan semester I 2026.
Jakarta – PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM) menilai aktivitas penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) pada 2026 mengalami penurunan seiring kondisi pasar yang belum kondusif.
Direktur TRIM David Agus mengatakan, berkurangnya jumlah perusahaan yang melantai di Bursa dipengaruhi oleh pengetatan persyaratan pencatatan saham oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Menurutnya, pengetatan tersebut bertujuan meningkatkan kualitas emiten yang tercatat di pasar modal.
“Karena kondisi pasarnya yang memang kurang kondusif untuk IPO dan kedua, saya lihat seleksinya dari BEI dan OJK juga semakin ketat. Jadi mereka mau make sure yang ke bursa itu adalah perusahaan-perusahaan yang benar layak bisa ke bursa lah,” ucap David kepada media di Jakarta, 10 Juli 2026.
Baca juga: Lewat IPO, RANS Fokus Kembangkan Perusahaan Media Jadi Intellectual Property
Hingga saat ini, baru tujuh perusahaan yang tercatat di BEI, yaitu PT BSA Logistics Indonesia Tbk, PT Niramas Utama Tbk, PT Nitrasanata Dharma Tbk, PT Bach Multi Global Tbk, PT Esa Medika Mandiri Tbk, PT Prodia Diagnostic Line Tbk, dan PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk.
Sepanjang tahun ini, Trimegah Sekuritas telah mengantarkan dua perusahaan melantai di BEI, yakni JECX dan RANS.
David mengungkapkan, masih ada satu perusahaan yang dipersiapkan untuk IPO. Namun, pelaksanaannya akan sangat bergantung pada perkembangan kondisi pasar.
“Kita sih sejujurnya untuk yang saat ini ya, belum ada lagi di pipeline. Mungkin ada satu lah, tapi belum juga lihat kondisi pasar. (Tapi dia udah siap-siap mau buat IPO?) Mempertimbangkan,” imbuhnya.
Baca juga: Bank Jakarta Makin Dekat IPO? Ini Penjelasan Terbaru dari BEI
IPO Marak di Akhir 2026
Lebih lanjut, ia memperkirakan aktivitas IPO berpotensi kembali ramai pada akhir 2026. Hal itu disebabkan sebagian calon emiten akan menggunakan laporan keuangan semester I 2026 sebagai dasar pencatatan saham.
“Karena kan biasanya pipelinenya IPO itu memang ramenya di bulan Juni, karena biasanya memang pake buku Desember kan dalam waktu enam bulan. Nanti mungkin ramean lagi akhir-akhir tahun karena mungkin sebagian pake buku Juni gitu,” tutup David. (*)
Editor: Galih Pratama


