Poin Penting
- Bank Muamalat fokus pada transformasi digital dan penguatan ekosistem syariah.
- Strategi bisnis diarahkan ke segmen ritel, termasuk UMKM dan konsumer.
- Kinerja 2025 tumbuh solid dengan laba naik 47,5% dan pembiayaan meningkat.
Jakarta – Sejak berdiri lebih dari tiga dekade lalu, PT Bank Muamalat Indonesia Tbk memikul peran sebagai pionir bank syariah di Tanah Air. Bank ini lahir dari gagasan besar, menghadirkan sistem keuangan yang tak hanya mengejar profit tapi juga kemaslahatan.
Namun, bagi manajemen perjalanan itu belum usai. Bank muamalat pun terus berbenah. Hal ini sebagai bagian dari penegasan arah transformasi pada milad ke-34 yang jatuh pada 1 Mei 2026.
Direktur Utama Bank Muamalat Imam Teguh Saptono menegaskan, perseroan terus bergerak maju melalui transformasi yang berkelanjutan.
Menurutnya, inovasi tidak hanya dimaknai sebagai pembaruan produk, tetapi sebagai upaya menghadirkan solusi keuangan syariah yang relevan dan bermakna dalam setiap fase kehidupan nasabah.
“Melalui transformasi yang berkelanjutan, kami memperkuat layanan, mengembangkan kapabilitas digital, dan menghadirkan pengalaman terbaik bagi nasabah,” ujar Imam, dalam keterangannya, dikutip Senin, 4 Mei 2026.
Baca juga: Muamalat DIN Dorong Zakat Digital, Volume Ziswaf Melonjak
Ia juga menyampaikan, untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan, Bank Muamalat menjalankan strategi bisnis yang berfokus pada segmen ritel, baik consumer maupun UMKM.
Segmen ini dinilai lebih tangguh menghadapi gejolak ekonomi, sekaligus sejalan dengan identitas Bank Muamalat sebagai bank yang dekat dengan masyarakat.
Pada saat bersamaan, Bank Muamalat juga mempererat sinergi dengan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) selaku pemegang saham pengendali.
Kolaborasi ini diarahkan untuk membangun ekosistem keuangan haji yang lebih modern, terintegrasi, dan berkelanjutan, mulai dari pengelolaan dana, pembiayaan, layanan transaksi, hingga pengembangan produk berbasis kebutuhan jemaah.
Baca juga: Bank Muamalat Ajak Nasabah Berinvestasi Sekaligus Beramal
Dengan memanfaatkan kapabilitas digital dan jejaring yang dimiliki, sinergi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas layanan bagi calon jemaah haji dan umrah, tetapi juga memperkuat peran ekonomi syariah dalam mendukung kemaslahatan umat secara lebih luas.
“Pada akhirnya, keberhasilan tidak semata diukur dari angka-angka finansial, tetapi dari seberapa besar manfaat yang kita hadirkan. Inilah esensi maqashid syariah bahwa setiap produk, layanan, dan keputusan harus bermuara pada kemaslahatan umat,” tandasnya.
Kinerja Solid
Dari sisi kinerja, Bank Muamalat membukukan laba sebelum pajak Rp30,1 miliar per 31 Desember 2025, atau tumbuh 47,5 persen secara year on year (yoy).
Total pembiayaan Bank Muamalat pun mencapai Rp18,5 triliun per Desember 2025, meningkat 10,1 persen yoy. Pembiayaan bagi hasil mudharabah tumbuh 42,9 persen yoy dari Rp379,9 miliar per Desember 2024 menjadi Rp543,1 miliar pada akhir Desember 2025.
Bank Muamalat juga mencatat pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang solid. Hingga akhir 2025, total DPK mencapai Rp45,5 triliun, meningkat 9,0 persen yoy. Adapun total aset ikut naik sebesar 3,8 persen yoy menjadi Rp62,3 triliun per akhir 2025.
Bank juga memastikan permodalan perseroan solid. Ini tecermin dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/ atau CAR) sebesar 26,37 persen pada Desember 2025. Angka tersebut jauh di atas ketentuan batas minimum yang ditetapkan regulator. (*)
Editor: Yulian Saputra




