Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), di acara Webinar Nasional bertajuk Aset Kripto Sebagai Instrumen Keuangan: Peluang, Tantangan, Strategi, yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Senin, 5 Mei 2025. (Tangkapan layar webinar: Mohammad Adrianto Sukarso)
Jakarta – Transaksi aset kripto semakin lazim terjadi di Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa per Maret 2025, jumlah konsumen perdagangan kripto mencapai 13,71 juta, dengan total nilai transaksi mencapai Rp109,29 triliun.
Meskipun prospeknya menjanjikan, Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) OJK, mewanti-wanti sejumlah tantangan yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekosistem kripto di Tanah Air.
“Pertama, aset kripto yang bersifat volatil, dapat menimbulkan risiko stabilitas sistem keuangan jika tidak diantisipasi dengan baik,” ujar Hasan di acara Webinar Nasional bertajuk Aset Kripto Sebagai Instrumen Keuangan: Peluang, Tantangan, Strategi yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Senin, 5 Mei 2025.
Baca juga: Hingga Maret, Setoran Pajak Ekonomi Digital Tembus Rp34,91 Triliun
Selanjutnya, Hasan menyorot peningkatan literasi dan pelindungan terhadap investor kripto. Terlebih, dewasa ini, semakin banyak produk berbasis kripto yang digunakan dalam perdagangan aset digital.
Hasan juga mengimbau agar pengawasan terhadap aset kripto diperketat, mengingat adanya potensi penyalahgunaan untuk transaksi ilegal seperti pencucian uang atau pendanaan terorisme.
“Yang keempat, dalam dunia tanpa batas ini, tentu kerja sama lintas negara dalam harmonisasi standar pengaturan kripto, menjadi suatu keniscayaan,” lanjut Hasan.
Terakhir, ia menekankan pentingnya penguatan kapabilitas teknis, manajerial, dan etika dalam mengelola aset kripto.
Tidak berhenti pada identifikasi tantangan, Hasan juga menyampaikan sejumlah langkah strategis yang dapat dilakukan para pemangku kebijakan untuk memperkuat pengawasan terhadap perdagangan kripto.
Langkah pertama adalah mendorong inovasi yang bertanggung jawab, dengan penekanan pada prinsip kehati-hatian.
“Yang kedua, mengembangkan ekosistem yang resilien. Ini mencakup infrastruktur pasar yang kokoh, penyelenggara yang andal, serta standar kepatuhan yang tinggi,” jelas Hasan.
Pengembangan literasi juga kembali disinggung, supaya masyarakat bisa memahami risiko aset kripto lebih baik lagi. Sebagai penutup, OJK juga akan terus memperkuat dan memperbaiki kerangka regulasi di sektor ini. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting Rencana demutualisasi BEI yang ditargetkan rampung kuartal I 2026 dinilai terlalu agresif dan… Read More
Poin Penting DPR menilai konten digital berjudul sensasional menjadi pintu masuk masyarakat ke praktik judi… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya memproyeksikan anggaran program gentengisasi sekitar Rp1 triliun, bersumber dari dana cadangan… Read More
Poin Penting Bank BPD Bali mencatat laba bersih Rp1,10 triliun (tumbuh 25,39 persen yoy), aset… Read More
By: Eko B. Supriyanto, Editor-in-Chief of Infobank Three commissioners of the Financial Services Authority (OJK)… Read More
Poin Penting Danantara menyatakan dukungan penuh terhadap reformasi pasar modal yang digulirkan OJK, termasuk kebijakan… Read More