Poin Penting
- Bank Indonesia (BI) memproyeksikan transaksi digital meningkat hingga empat kali lipat pada 2030.
- BI menyiapkan penguatan infrastruktur, inovasi, dan konektivitas pembayaran lintas negara.
- Transformasi sistem pembayaran dinilai membutuhkan kolaborasi seluruh pelaku industri.
Bali – Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta menegaskan sistem pembayaran nasional akan memasuki fase baru seiring lonjakan transaksi digital yang diperkirakan meningkat hingga empat kali lipat pada 2030.
Untuk mengantisipasi pertumbuhan tersebut, BI menyiapkan penguatan infrastruktur, konsolidasi industri, pengembangan inovasi, hingga perluasan konektivitas pembayaran lintas negara.
Hal itu disampaikan Filianingsih saat membuka Prima Executive Gathering (PEG) 2026 di The Mulia, Nusa Dua, Bali, Kamis, 6 Agustus 2026.
Baca juga: Prima Executive Gathering 2026 Resmi Dibuka, Perkuat Kolaborasi Industri Sistem Pembayaran
Menurut Filianingsih, di tengah ketidakpastian ekonomi global, digitalisasi justru menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Kita meyakini akselerasi inovasi digital mampu memperkuat produktivitas ekonomi sebagai necessary condition bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Filianingsih.
Ia mengatakan, produktivitas tersebut tercipta melalui transaksi yang semakin cepat serta perputaran uang (velocity of money) yang lebih efisien.
BSPI 2030 Jadi Arah Baru Sistem Pembayaran
Filianingsih menjelaskan arah pengembangan tersebut dituangkan dalam Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030, sebagai kelanjutan dari BSPI 2025.
Blueprint terbaru itu disusun untuk memastikan sistem pembayaran nasional mampu mengikuti pesatnya digitalisasi ekonomi sekaligus tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.
Baca juga: Survei BI: Harga Properti Residensial Naik Tipis di Kuartal II 2026
Filianingsih pun menekankan keberhasilan transformasi sistem pembayaran nasional tidak dapat dilakukan BI sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi erat antara regulator, industri, asosiasi, dan seluruh pelaku ekosistem digital.
“Kesuksesan yang kita dapatkan adalah hasil kerja kita semua,” tutupnya. (*) Steven Widjaja


