Poin Penting
- Harga properti residensial primer pada kuartal II 2026 tumbuh 0,69 persen yoy, sedikit meningkat dari 0,62 persen pada kuartal sebelumnya
- Penjualan properti mulai membaik, meski masih terkontraksi 2,36 persen yoy, jauh lebih baik dibandingkan kontraksi 25,67 persen pada kuartal I 2026
- KPR masih menjadi pilihan utama konsumen, dengan pangsa 70,05 persen dari total skema pembelian rumah di pasar primer.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan harga properti residensial di pasar primer masih mengalami peningkatan terbatas. Hal tersebut tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) kuartal II 2026 yang tercatat sebesar 110,89 atau tumbuh 0,69 persen secara tahunan (year on year/yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada kuartal I 2026 sebesar 0,62 persen (yoy).
Peningkatan harga properti terutama dipengaruhi oleh pertumbuhan harga rumah tipe besar. Indeks harga rumah tipe besar tercatat sebesar 108,41 atau tumbuh 0,68 persen (yoy), meningkat dibandingkan kuartal I 2026 yang tumbuh 0,50 persen (yoy).
Sementara itu, indeks harga rumah tipe kecil tercatat sebesar 113,89 atau tumbuh melambat 0,49 persen (yoy), dari sebelumnya 0,61 persen (yoy) pada kuartal I 2026.
Adapun indeks harga rumah tipe menengah tercatat sebesar 114,01 dengan pertumbuhan yang relatif stabil dibandingkan kuartal sebelumnya.
Baca juga: BI: Kredit Properti Tumbuh 17,6 Persen Jadi Rp1.713,2 Triliun pada Juni 2026
Dari sisi penjualan, BI mencatat penjualan properti residensial di pasar primer pada kuartal II 2026 mengalami perbaikan secara tahunan. Penjualan masih terkontraksi 2,36 persen (yoy), namun membaik dibandingkan kontraksi 25,67 persen (yoy) pada kuartal I 2026.
Perbaikan tersebut terutama didorong oleh penjualan rumah tipe kecil yang meski masih terkontraksi 2,88 persen (yoy), tetapi membaik signifikan dibandingkan kontraksi 45,59 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya.
Selain itu, penjualan rumah tipe besar juga mencatat perbaikan dengan tumbuh 13,08 persen (yoy), berbalik dari kontraksi 8,03 persen (yoy) pada kuartal I 2026.
Sebaliknya, penjualan rumah tipe menengah mengalami penurunan, dari tumbuh 8,28 persen (yoy) menjadi terkontraksi 10,51 persen (yoy) pada kuartal II 2026.
Dari sisi pembiayaan, sumber utama pembiayaan pengembang dalam pembangunan properti residensial masih berasal dari dana internal perusahaan, dengan pangsa 73,28 persen dari total kebutuhan pembiayaan.
Selanjutnya, pembiayaan berasal dari pinjaman perbankan sebesar 17,89 persen dan pembayaran konsumen sebesar 8,83 persen.
Baca juga: Demand Properti Lesu di Semester I 2026, Pinhome Beberkan Pemicunya
Sementara dari sisi konsumen, mayoritas pembelian rumah di pasar primer dilakukan melalui skema kredit pemilikan rumah (KPR), dengan pangsa 70,05 persen dari total skema pembelian.
Adapun pembelian rumah melalui pembayaran tunai bertahap dan tunai masing-masing memiliki pangsa 20,60 persen dan 9,35 persen. (*)
Editor: Galih Pratama


