Poin Penting
- Kenaikan yield SUN dan SRBI turut meningkatkan cost of fund perusahaan pembiayaan, selain dampak kenaikan BI Rate.
- Pemerintah dinilai perlu menawarkan imbal hasil lebih tinggi untuk menarik investor di tengah pelemahan rupiah.
- SMF menghadapi tantangan kenaikan biaya pendanaan dan harus menyiapkan strategi adaptif menghadapi kondisi pasar.
Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya mendorong kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), tetapi juga meningkatkan imbal hasil (yield) surat utang. Kondisi ini turut menekan cost of fund atau biaya pendanaan perusahaan pembiayaan, termasuk sektor pembiayaan perumahan.
Chief Economist PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) (SMF), Martin D. Siyaranamual, mengatakan kenaikan yield Surat Utang Negara (SUN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) turut memengaruhi biaya pendanaan industri jasa keuangan.
“Jadi, di satu sisi otoritas moneter dia harus bersikap agresif. Di sisi yang lain, imbal hasil dari Surat Utang Negara itu juga cenderung mengalami kenaikan. Jadi, otoritas fiskal di saat yang sama juga harus agresif,” ujar Martin saat konferensi pers kinerja semester I 2026 SMF di Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.
Baca juga: Ekonom SMF Ramal BI Rate Sentuh 6,75 Persen di Akhir 2026
Martin menjelaskan, pemerintah memiliki tiga opsi utama untuk menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah ketika cadangan devisa tak mencukupi. Ketiganya adalah menaikkan tarif pajak, meningkatkan utang, atau mengurangi belanja.
“Sekarang dari tiga komponen tersebut, mana yang akan mungkin dilakukan? Jawabannya adalah utang. Implikasinya kalau dia ingin berhutang banyak, maka dia harus menawarkan imbal hasil yang lebih menarik. Imbal hasil yang lebih agresif,” jelas Martin.
Imbal hasil (yield) SUN dan SRBI pun mengalami kenaikan dalam beberapa waktu ini. Per pertengahan Juni 2026, yield SUN tenor 1 tahun meningkat menjadi 7,08 persen, sementara tenor 10 tahun mencapai 7,00 persen. Lebih tinggi dibandingkan level awal tahun.
Sedangkan yield SRBI untuk tenor 6 dan 12 bulan berada pada kisaran 7,23 persen dan 7,64 persen per 17 Juli 2026.
“Implikasinya apa? Implikasinya terhadap seluruh lembaga pembiayaan, industri, jasa keuangan, cost of fund mereka pasti akan naik. Tidak mungkin tidak,” tegas Martin.
Baca juga: Pembiayaan Tembus Rp141,61 T, Laba SMF Tumbuh 33,9 Persen di Juni 2026
Ini dikarenakan, standar yield Surat Utang Negara menjadi referensi perusahaan lainnya dalam menetapkan beban bunga surat utang. Hal ini jugalah yang pada akhirnya diikuti oleh SMF ketika menetapkan yield surat utang untuk pendanaan.
“Kalau mereka ikut naik, ya kami pasti akan lebih naik lagi. Itu implikasinya. Nah, itulah yang menyebabkan tantangan tersendiri,” cetus Martin.
SMF Dituntut Adaptif Hadapi Biaya Pendanaan
Kenaikan yield surat utang tersebut tak bisa dihindari, demi membuat pasar obligasi Indonesia lebih menarik bagi investor, agar mereka mau menempatkan dananya di pasar obligasi RI di tengah pelemahan kurs rupiah yang sedang terjadi. Ini pada akhirnya menjadi beban tersendiri dari sisi cost of fund perusahaan pembiayaan demi membayarkan yield yang tinggi tersebut.
“Karena kami jual kemahalan, seberapa sulitnya kami berjualan. Jadi, itu tadi yang saya bilang, harus adaptif. Harus ada strategi bagaimana menghadapi ini kondisi saat ini,” tandas Martin. (*) Steven Widjaja


