Poin Penting:
- Sudaryono resmi ditunjuk sebagai Kepala BGN menggantikan Nanik S Deyang.
- Eks ajudan Prabowo itu dinilai memahami rantai pasok pangan untuk mendukung program MBG.
- LHKPN mencatat total kekayaan Sudaryono mencapai sekitar Rp91,7 miliar.
Jakarta – Sudaryono resmi menjadi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menggantikan Nanik S Deyang yang mengundurkan diri dari jabatannya.
Penunjukan itu menempatkan mantan ajudan Presiden Prabowo Subianto sebagai nakhoda baru program strategis Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepercayaan tersebut diberikan setelah Sudaryono dinilai memahami ekosistem pangan nasional. Pengalamannya di Kementerian Pertanian menjadi salah satu pertimbangan Presiden Prabowo Subianto.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan Presiden telah menetapkan pengganti Kepala BGN.
“Bapak Presiden memutuskan pengganti Kepala BGN adalah Bapak Sudaryono yang saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian,” ujarnya, Rabu, 22 Juli 2026.
Baca juga: Prabowo Tunjuk Sudaryono Jadi Kepala BGN Baru Pengganti Nanik S Deyang
Profil Sudaryono: Dari Anak Petani hingga Kepala BGN
Sudaryono lahir di Grobogan, Jawa Tengah, pada 23 Januari 1985. Ia berasal dari keluarga petani dan sejak kecil terbiasa membantu orang tuanya di sawah.
Pendidikan menengah ditempuh di SMA Taruna Nusantara. Setelah itu, ia meraih beasiswa ke National Defense Academy Jepang.
Di kampus tersebut, Sudaryono menjadi satu-satunya mahasiswa asal Indonesia. Ia lulus sebagai juara kelas berkat prestasi akademik dan kedisiplinannya.
Baca juga: Presiden Prabowo Resmi Lantik Sudaryono jadi Kepala BGN
Sekembalinya ke Indonesia, ia dipercaya menjadi asisten pribadi atau ajudan Prabowo Subianto. Pengalaman itu kemudian membuka jalan karier politiknya di Partai Gerindra.
Ia juga menyelesaikan Program Doktor Manajemen Bisnis (DMB) angkatan ke-15 di Sekolah Bisnis IPB University.
Sudaryono Terlibat Program MBG Sejak Awal
Pelantikan dilakukan pada hari yang sama agar tidak terjadi kekosongan kepemimpinan. Pemerintah ingin program MBG tetap berjalan tanpa hambatan.
Prasetyo menjelaskan, Sudaryono telah terlibat sejak awal dalam penyusunan program tersebut. Pengalamannya sebagai Wakil Menteri Pertanian dinilai relevan dengan kebutuhan BGN.
“Kegiatan Badan Gizi Nasional tidak bisa dipisahkan dari dukungan Kementerian Pertanian karena penyediaan bahan baku pangan berada dalam ekosistem kementerian tersebut,” kata Prasetyo.
Karier profesionalnya dimulai sebagai Corporate Secretary Nusantara Energy pada 2014. Ia kemudian menjadi CEO Garuda TV pada 2018.
Setahun berikutnya, ia memimpin PT Nusantara Telematics System sebagai CEO. Sejak 2020, ia juga menjabat Chairman PT Sahabat Sejati Sejahtera Farma.
Di organisasi, ia dipercaya menjadi Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI). Ia juga menjabat Ketua Dewan Pembina Pedagang Pejuang Indonesia Raya (Papera).
Dalam politik, ia pernah menjadi Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra. Setelah itu, ia memimpin DPD Gerindra Jawa Tengah.
Karier pemerintahannya dimulai sebagai Wakil Menteri Pertanian pada akhir pemerintahan Presiden Joko Widodo. Di era Presiden Prabowo, ia kembali dipercaya hingga akhirnya memimpin BGN.
Baca juga: Mundur dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Masih Berpeluang Diperiksa Kejagung
Harta Kekayaan Sudaryono Tembus Rp91,7 Miliar
Berdasarkan LHKPN yang disampaikan ke KPK pada 29 Maret 2026, Sudaryono memiliki kekayaan Rp91.760.170.717. Nilai itu setara sekitar Rp91,7 miliar.
Aset terbesarnya berupa tanah dan bangunan senilai Rp69,694 miliar. Properti tersebut tersebar di Bogor, Jakarta Selatan, Tangerang Selatan, Depok, Sukoharjo, Semarang, Jepara, dan Klaten.
Selain itu, ia memiliki surat berharga Rp7,645 miliar. Kas dan setara kasnya mencapai Rp13,345 miliar.
LHKPN juga mencatat aset kendaraan senilai Rp1,079 miliar. Koleksinya meliputi Toyota Fortuner, Toyota Innova, dan satu sepeda motor bebek.
Dengan latar belakang di sektor pangan, organisasi, dan pemerintahan, Sudaryono kini mengemban tanggung jawab memimpin BGN sekaligus melanjutkan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. (*)
Editor: Yulian Saputra


