Poin Penting
- Syailendra Research mencatat pasar keuangan bergerak positif pada pekan lalu, ditandai rupiah menguat 0,31 persen ke Rp17.630 per dolar AS dan IHSG naik 1,8 persen ke level 6.636
- Pasar obligasi turut mencatat arus dana asing positif, dengan ID10Y naik ke 7,12 persen dan foreign inflow mencapai Rp1,97 triliun. Di pasar saham, inflow asing tercatat Rp2,32 triliun
- Sentimen global membaik setelah pernyataan dovish The Fed, sementara data ekonomi domestik dan relaksasi kebijakan DHE turut menjadi perhatian pelaku pasar.
Jakarta – Syailendra Research merangkum pergerakan pasar keuangan pada pekan lalu yang secara umum menunjukkan tren positif, baik dari sisi nilai tukar rupiah, pasar obligasi, maupun pasar saham.
Dari pasar valuta, rupiah menguat 0,31 persen ke level Rp17.630 per dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan tersebut sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang turun ke level 99,15 sepanjang pekan lalu.
Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah Indonesia tenor 10 tahun (ID10Y) meningkat ke level 7,12 persen. Pergerakan tersebut diikuti arus dana asing masuk sebesar Rp1,97 triliun. Sementara itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun (US10Y) stagnan di level 4,78 persen.
Dari pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,8 persen ke level 6.636, dengan inflow asing mencapai Rp2,32 triliun. Penguatan juga terjadi di bursa saham AS, dengan Nasdaq naik 0,7 persen, S&P 500 meningkat 0,5 persen, dan Dow Jones menguat 0,2 persen.
Baca juga: BEI Catat 3 Saham Bank Jumbo Topang Penguatan IHSG Sepekan
Syailendra Research juga menyoroti sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan pasar sepanjang pekan lalu, salah satunya rilis data ekonomi domestik Agustus 2026.
Sejumlah indikator yang menjadi perhatian antara lain inflasi yang mencapai 3,19 persen dari 2,88 persen, inflasi inti 2,92 persen dari 2,76 persen, neraca perdagangan USD0,13 miliar dari sebelumnya -USD0,45 miliar, serta PMI Manufaktur yang turun menjadi 49,8 dari 50,2.
Di sisi kebijakan, Indonesia resmi memberlakukan relaksasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang diatur dalam PP 21/2026.
Dalam aturan baru tersebut, eksportir hasil tambang yang memenuhi syarat afiliasi investasi ke AS, China, Hong Kong, dan Kanada diperbolehkan menahan 30 persen penghasilan ekspornya selama tiga bulan. Kebijakan ini lebih longgar dibandingkan aturan sebelumnya yang mewajibkan penempatan 100 persen selama 12 bulan.
Selain itu, Bank Indonesia (BI) dan Monetary Authority of Singapore resmi mengimplementasikan kerangka kerja local currency transaction (LCT). Kerangka tersebut memungkinkan penyelesaian transaksi bilateral rupiah-dolar Singapura secara langsung tanpa melalui dolar AS.
Dari global, pernyataan dovish Gubernur The Fed Christopher Waller pada 4 September 2026 memicu relief rally di pasar keuangan global. Setelah menyatakan bahwa data inflasi diperkirakan akan mereda, Waller cenderung mendukung dipertahankannya suku bunga pada rapat September.
Baca juga: BTPN Syariah Umumkan Rencana Buyback Saham Rp1 Triliun
Merespons hal tersebut, probabilitas kenaikan Fed Rate pada rapat September berdasarkan CME FedWatch turun dari 63 persen menjadi sekitar 50 persen.
Sementara itu, data Nonfarm Payrolls AS menunjukkan penambahan 162 ribu pekerjaan pada Agustus 2026. Angka tersebut menjadi penambahan tertinggi setelah pasar tenaga kerja AS melemah dalam lima bulan terakhir.
Adapun tingkat pengangguran AS tetap stabil di level 4,1 persen, sesuai dengan ekspektasi pasar. (*)
Editor: Galih Pratama


