Poin Penting
- Sutadi menilai maraton mencerminkan dunia bisnis: perlu ritme, konsistensi, dan daya tahan untuk mencapai hasil jangka panjang
- Karier Sutadi di BFI Finance penuh proses, dari sempat terkena PHK saat krisis 1999 hingga menjadi Presiden Direktur pada 2025
- Sutadi menekankan integritas dan kepercayaan sebagai kekuatan utama BFI Finance agar tetap solid menghadapi berbagai tantangan ekonomi.
Jakarta – Bagi sebagian orang, maraton mungkin hanya soal olahraga. Tentang berlari sejauh puluhan kilometer, mengejar waktu terbaik, lalu menyentuh garis finis dengan napas tersengal. Tapi, bagi Sutadi, Presiden Direktur BFI Finance, maraton adalah cerminan hidup. Ada soal ritme, daya tahan, konsistensi, dan keberanian untuk terus melangkah meski jalan terasa berat.
Sudah lebih dari 10 tahun Sutadi akrab dengan dunia lari. Ia bukan sekadar pelari weekend yang ikut “fun run” demi foto medali. Pria berusia 52 tahun itu sudah pernah menuntaskan full marathon 42 kilometer di ajang internasional. Dari sana, ia belajar satu hal penting: kemenangan bukan milik pelari yang paling cepat di awal, melainkan mereka yang mampu menjaga pace sampai akhir.
Tahun 2025 menjadi titik penting dalam hidupnya. Di usia BFI Finance yang memasuki 44 tahun, Sutadi dipercaya memimpin perusahaan pembiayaan independen itu. Ia menyebut tugas barunya seperti membawa BFI masuk ke “second marathon”. Sebuah perjalanan baru yang lebih panjang, lebih kompleks, sekaligus penuh tantangan.
Ketika berbincang dengan tim Infobank di BFI Tower, BSD, April lalu, Sutadi berbicara dengan tenang. Tidak ada nada meledak-ledak atau ambisi berlebihan. Ia justru terdengar seperti seorang pelari senior yang paham kapan harus menekan gas dan kapan harus mengatur napas. Baginya, dunia bisnis bukan sprint yang hanya mengejar pertumbuhan cepat, melainkan long term game yang membutuhkan stamina dan strategi matang.

“Maraton itu long term game. Kita harus berlatih dengan baik dan punya strategi yang jelas. Yang penting, kita bisa berlari stabil, tidak memaksakan diri, dan finish strong,” ujar Sutadi. Kutipan itu terdengar sederhana, tapi menggambarkan cara pandangnya dalam memimpin perusahaan dan menghadapi tantangan bisnis yang terus berubah.
Perjalanan Sutadi sendiri juga jauh dari kata mulus. Ia bergabung dengan BFI Finance pada Oktober 1997, tepat ketika badai krisis moneter mulai menghantam Indonesia. Saat itu, kondisi perusahaan tidak stabil. Bahkan, ia sempat terkena PHK pada 1999. Situasi itu jelas bukan pengalaman yang mudah bagi anak muda yang kala itu bahkan belum menuntaskan kuliah di Universitas Trisakti.
Tapi, hidup memang sering bekerja dengan caranya sendiri. Sutadi masih mengingat kalimat yang sampai hari ini terus melekat dalam pikirannya: “Sometimes, you cannot choose your timing. The timing choose you.” Dari fase sulit itu, ia belajar bahwa tekanan kadang justru membentuk mental paling kuat. Ketika BFI Finance mulai bangkit pada awal 2000-an, ia kembali bergabung sebagai branch manager dan memulai lembar baru dalam kariernya.
Langkahnya kemudian terus menanjak. Dari satu posisi ke posisi lain, Sutadi tumbuh bersama BFI Finance. Ia dipercaya menjadi direktur bisnis pada 2014, lalu akhirnya duduk sebagai presiden direktur pada 2025. Hampir tiga dekade ia menghabiskan waktu di BFI Finance. Sebuah perjalanan karier yang tidak instan dan penuh proses panjang.

Tantangan terbesar bukan hanya soal jabatan baru. Sutadi harus melanjutkan tongkat estafet dari dua figur besar di BFI Finance: Yan Peter Wangkar dan Francis Lay Sioe Ho. Keduanya adalah legenda di BFI Finance. Nama terakhir bahkan dikenal sebagai salah satu pendiri perusahaan dan telah memimpin lebih dari 40 tahun. Tapi, Sutadi tidak ingin sibuk membandingkan diri dengan para pendahulunya. Ia memilih fokus menjaga warisan yang sudah dibangun sambil membawa energi baru bagi perusahaan.
Di balik gaya bicaranya yang tenang, Sutadi punya prinsip yang sangat tegas. Integritas tidak boleh ditawar. Menurutnya, sebagai perusahaan pembiayaan independen yang tidak berada di bawah grup besar, BFI Finance hanya punya satu modal utama, yakni kepercayaan. Karena itu, kualitas layanan, teamwork, dan disiplin menjadi fondasi penting agar perusahaan tetap kuat menghadapi berbagai siklus ekonomi.
Pengalaman menghadapi pandemi COVID-19 semakin memperkuat keyakinannya. Saat banyak perusahaan kesulitan, BFI Finance tetap menjaga komitmen kepada kreditur tanpa meminta keringanan khusus. Dari situ lahir trust yang semakin besar dari para pemberi dana. BFI Finance pun tetap memperoleh dukungan funding dengan bunga kompetitif.
Bagi Sutadi, semua itu tidak terjadi karena keberuntungan semata, tapi karena konsistensi dan ketahanan yang dibangun bertahun-tahun. Kini, ia ingin memastikan BFI Finance terus berlari stabil, menjaga ritme, dan tetap kuat hingga garis finis berikutnya. (*) Ayu Utami
*Artikel selengkapnya baca di Majalah Infobank No. 577, edisi Mei 2026.


