Jakarta–Survei yang dilakukan Bank Indonesia (BI) terhadap industri perbankan nasional menunjukkan, bahwa ada optimisme di antara kalangan bankir untuk penyaluran kredit ketimbang tahun lalu.
Hasil Survei Perbankan menunjukkan perkiraan responden terhadap rata-rata pertumbuhan kredit mencapai 13,1% pada tahun 2017. Perkiran tersebut tentu jauh lebih baik daripada realisasi pertumbuhan kredit setahunan yang cuma 8,3% per November 2016.
“Optimisme pertumbuhan kredit tersebut terutama didorong oleh meningkatnya kondisi likuiditas perbankan, masih berlanjutnya penurunan suku bunga kredit, dan kondisi ekonomi yang diperkirakan semakin baik,” tulis BI dalam laporannya. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Secara triwulanan, pertumbuhan kredit baru diperkirakan meningkat pada triwulan IV-2016, namun melambat pada triwulan I-2017 sesuai dengan pola historis awal tahun. Peningkatan pertumbuhan kredit baru pada triwulan IV-2016 didorong oleh kenaikan permintaan pembiayaan, penurunan suku bunga kredit dan peningkatan kegiatan promosi.
(Baca juga: Jokowi Minta Perbankan Perhatikan Pertumbuhan Kredit)
Dalam laporan survei perbankan tersebut, BI mencatat pada triwulan IV-2016, pertumbuhan permintaan kredit baru menguat dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal ini tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) permintaan kredit baru triwulan IV-2016 sebesar 85,6%, lebih tinggi dari 62,6% pada triwulan sebelumnya.
Peningkatan pertumbuhan kredit baru terjadi pada semua jenis penggunaan, dengan kenaikan tertinggi terjadi pada kredit konsumsi dimana SBT mengalami kenaikan dari 26,8% menjadi 72,8%. Disusul oleh kredit modal kerja yang naik dari 54,5% menjadi 84,2%. Kemudian kredit investasi juga naik dari 68% menjadi 69,9%. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Berdasarkan sektor ekonomi, kenaikan permintaan kredit baru terjadi pada hampir semua sektor. Pertumbuhan tertinggi terjadi di sektor perdagangan besar dan eceran (SBT 71,7%), diikuti oleh sektor industri pengolahan (SBT 57,9%) dan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum (SBT 50,6%).
Sedangkan pertumbuhan kredit baru diperkirakan melambat pada triwulan I-2017, tercermin dari SBT permintaan kredit baru pada triwulan I-2017 sebesar 74,1%, lebih rendah dari 85,6% pada triwulan sebelumnya. Pertumbuhan kredit baru tersebut sesuai dengan pola historis pertumbuhan kredit baru yang melambat setiap awal tahun.
“Menurunnya optimisme permintaan kredit baru tersebut terutama disebabkan oleh permintaan pembiayaan yang masih rendah pada awal tahun,” tulis laporan bank sentral. (*)
(Baca juga: Kinerja Saham Bank Januari 2017 Penuh Tantangan)


