Poin Penting
- Keyakinan konsumen tetap optimistis pada Juni 2026 dengan IKK sebesar 117,8, meski turun dari 120,9 pada Mei 2026
- Optimisme ditopang kondisi ekonomi saat ini (IKE 109,2) dan ekspektasi ekonomi enam bulan ke depan (IEK 126,4) yang masih berada di zona optimistis
- Porsi pendapatan untuk konsumsi naik menjadi 73,0 persen, sementara rasio tabungan turun menjadi 17,0 persen.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan Survei Konsumen pada Juni 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga. Hal ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2026 yang berada pada level optimis sebesar 117,8, namun lebih rendah dari IKK bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 120,9.
Berdasarkan laporan Survei Konsumen yang diterbitkan BI, optimisme konsumen tersebut ditopang oleh tetap kuatnya persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi kondisi ekonomi ke depan.
Secara rinci, persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini tetap kuat tecermin dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) Juni 2026 sebesar 109,2), meskipun lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 112,2.
Tetap kuatnya IKE ditopang oleh Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI), Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK), dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama/ Durable Goods (IPDG) yang tercatat masing-masing sebesar 119,8, 101,8, dan 105,9, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya masing-masing sebesar 123,2, 105,0, dan 108,3.
Sementara berdasarkan kelompok pengeluaran, keyakinan konsumen terhadap penghasilan saat ini tetap kuat pada seluruh kelompok, meskipun sebagian besar mengalami penurunan indeks.
Indeks tertinggi tercatat pada kelompok pengeluaran >Rp5 juta, yaitu sebesar 129,2. Berdasarkan kelompok usia, indeks tertinggi tercatat pada kelompok usia 20-30 tahun, yaitu sebesar 129,7.
Baca juga: Bank-bank Perkuat Transaksi QRIS di Tengah Perubahan Perilaku Konsumen
Selanjutnya, persepsi responden terhadap ketersediaan lapangan kerja saat ini mengalami penurunan pada seluruh tingkat pendidikan.
Meski demikian, responden berpendidikan sarjana dan akademi/diploma masih mencatatkan indeks pada level optimis, masing-masing sebesar 109,0 dan 101,2.
Ekspektasi Ekonomi
Selanjutnya, ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan diprakirakan tetap kuat. Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) Juni 2026 sebesar 126,4, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan indeks pada bulan sebelumnya sebesar 129,7.
Tetap kuatnya IEK bersumber dari optimisme ekspektasi penghasilan, ekspektasi ketersediaan lapangan kerja, dan ekspektasi kegiatan usaha yang masing-masing tercatat sebesar 133,6, 124,4, dan 121,2.
Persepsi reponden terhadap ekspektasi penghasilan enam bulan ke depan berada pada level optimis pada seluruh kelompok pengeluaran.
Peningkatan indeks hanya terjadi pada kelompok pengeluaran >Rp5 juta, yang mencatat indeks sebesar 138,9. Sedangkan kelompok lainnya mengalami penurunan indeks
Kemudian, prakiraan konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja enam bulan mendatang masih berada pada level optimis di seluruh tingkat pendidikan.
Meski begitu, seluruh tingkat pendidikan mengalami penurunan indeks dibandingkan dengan bulan sebelumnya
Selain itu, pada Juni 2026, rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) tercatat sebesar 73,0 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi pada bulan sebelumnya, yaitu sebesar 72,3 persen.
Sementara itu, proporsi pembayaran cicilan/utang (debt installment to income ratio) sebesar 10,0 persen, relatif stabil dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya sebesar 10,2 persen.
Baca juga: Purbaya Proyeksikan Defisit APBN 2026 Melebar jadi 2,85 Persen
Lebih lanjut, proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) sebesar 17,0 persen, lebih rendah dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya, yaitu sebesar 17,5 persen.
Lalu, proporsi konsumsi terhadap pendapatan terindikasi meningkat pada kelompok pengeluaran Rp2,1-3 juta (75,2 persen), Rp4,1-5 juta (71,8 persen), dan >Rp5 juta (70,9 persen).
Sedangkan pada kelompok pengeluaran lainnya, proporsi konsumsi terhadap pendapatan terindikasi menurun.
Adapun porsi pendapatan yang ditabung mengalami penurunan pada kelompok pengeluaran Rp2,1-3 juta (15,6 persen) dan Rp4,1-5 juta (16,9 persen). (*)
Editor: Galih Pratama

