Poin Penting
- Defisit transaksi berjalan Indonesia melebar menjadi 3,3% dari PDB pada kuartal II 2026.
- Penyusutan surplus perdagangan barang dapat meningkatkan tekanan terhadap defisit transaksi berjalan.
- Arus investasi diperlukan untuk menjaga keseimbangan eksternal dan stabilitas rupiah.
Jakarta – Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengingatkan pelebaran defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) menjadi salah satu tantangan yang harus diwaspadai untuk perekonomian Indonesia ke depan.
Andry menjelaskan, kondisi tersebut terjadi ketika surplus neraca perdagangan barang semakin mengecil, sehingga memperbesar tekanan terhadap defisit transaksi berjalan.
“Yang perlu kita hadapi ke depan adalah pelebaran defisit dari current account itu sendiri di mana ketika neraca perdagangan barang kita surplusnya semakin mengecil tentunya tekanannya akan semakin besar kepada current account defisit,” kata Andry dalam Mandiri Macro and Market Brief Kuartal III 2026, dikutip, Jumat, 4 September 2026.
Baca juga: Neraca Perdagangan RI Januari 2026 Surplus USD0,95 Miliar, Nonmigas Jadi Penopang
Pada kuartal II 2026, defisit transaksi berjalan melebar mencapai 3,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau USD12,5 miliar, dibandingkan kuartal I 2026 yang senilai USD3,6 miliar atau 1 persen PDB.
Asmo sapaan akrab Andry menyampaikan, komponen yang perlu dicermati adalah neraca jasa dan neraca pendapatan primer yang masih mencatatkan defisit dalam beberapa periode terakhir.
Dengan kondisi tersebut, apabila surplus neraca perdagangan barang terus mengecil, maka kemampuan surplus tersebut untuk mengompensasi defisit neraca jasa dan primary income akan semakin terbatas. Akibatnya, defisit transaksi berjalan berpotensi semakin melebar.
“Kalau neraca perdagangan barangnya kemudian surplusnya mengecil, tentu saja akan semakin besar dan semakin tidak bisa menutup yang namanya neraca jasa dan primary income dan akan menghasilkan defisit neraca transaksi berjalan yang semakin besar,” pungkas Asmo.
Baca juga: Neraca Perdagangan RI Juni 2026 Defisit USD450 Juta, Ini Biang Keroknya
Andalkan Arus Modal Masuk
Menurutnya, pelebaran defisit transaksi berjalan tersebut perlu diimbangi melalui surplus atau aliran modal yang masuk pada neraca finansial (financial account). Karena itu, besarnya arus modal yang masuk ke Indonesia menjadi faktor penting untuk menjaga keseimbangan eksternal sekaligus menopang stabilitas rupiah.
“Tentu saja dukungannya ada di direct investment plus juga dari portfolio investment terutama di pasar saham dan juga pasar obligasi,” imbuhnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


