Poin Penting
- Kapal induk USS Abraham Lincoln membawa sekitar 5.000 personel AS ke Thailand.
- Polisi Pattaya menahan 40 hingga 50 orang dalam razia prostitusi.
- Personel USS Lincoln mendapat sejumlah pembatasan selama empat hari di Thailand.
Jakarta – Kapal induk USS Abraham Lincoln akhirnya bersandar di Thailand setelah berbulan-bulan beroperasi di laut melawan Iran. Kedatangannya membawa sekitar 5.000 pelaut dan Marinir AS ke Pattaya.
Persinggahan itu langsung mendapat perhatian aparat Thailand dan kelompok antiperdagangan manusia. Polisi kemudian menggelar razia prostitusi di Pattaya selama akhir pekan.
Operasi tersebut menyasar kawasan yang dikenal sebagai pusat wisata seks Thailand. Penertiban berlangsung saat praktik prostitusi tetap marak meski secara hukum ilegal.
Baca juga: Perang AS-Iran Kembali Memanas, Rupiah Dibayangi Tekanan Baru
Kapal Induk AS Tiba, Polisi Pattaya Perketat Penertiban
USS Abraham Lincoln tiba di pelabuhan Laem Chabang pada Rabu (2/9). Kapal tersebut sebelumnya menjalani penugasan laut berkepanjangan tanpa singgah di pelabuhan.
Kehadiran ribuan personel AS memicu kekhawatiran kelompok antiperdagangan manusia. Mereka menyoroti potensi eksploitasi perempuan selama kunjungan militer tersebut.
Dianna Bautista merupakan salah satu pendiri organisasi antiperdagangan manusia Free Rain International. Ia menilai kedatangan ribuan personel AS membutuhkan pengawasan ketat.
“Kami merasa perlu berhati-hati dengan keputusan AS membawa 5.000 personel militer ke ‘ibu kota seks dunia’ setelah mereka terkurung di dalam kapal selama 10 bulan,” katanya, seperti dikutip Newsweek, Kamis (3/9/2026).
Bautista juga mempertanyakan pilihan Pattaya sebagai lokasi persinggahan kapal perang tersebut. Menurutnya, keputusan itu menimbulkan pertanyaan karena banyak lokasi lain tersedia.
“Dari ribuan tempat di mana kapal ini bisa berlabuh, mereka justru memilih untuk membawa pasukan ini ke sini. Hal ini terasa sangat diperhitungkan dan disengaja,” ujarnya.
Razia Prostitusi Digelar Selama Kunjungan USS Lincoln
Polisi Pattaya menahan sekitar 40 hingga 50 orang dalam operasi akhir pekan. Penertiban itu dilakukan untuk mengantisipasi persoalan selama kedatangan personel AS.
Kepala Polisi Pattaya Anek Srathongyoo mengakui pemberantasan prostitusi menghadapi tantangan. Aktivitas tersebut tetap berlangsung terbuka di sejumlah kawasan hiburan malam.
“Kami berupaya semaksimal mungkin, namun hal itu sulit dilakukan,” katanya, dikutip Reuters.
Situasi itu membuat aparat Thailand memperketat pengawasan selama kunjungan kapal. Langkah tersebut diarahkan untuk mencegah munculnya persoalan di kawasan wisata Pattaya.
Baca juga: Menlu Iran Bongkar Dugaan Permainan Pejabat AS di Balik Harga Energi
Personel AS Dibatasi Selama Empat Hari di Thailand
Aparat Thailand bersama perwakilan Angkatan Laut AS menetapkan sejumlah pembatasan. Personel USS Lincoln dilarang memasuki kawasan prostitusi tertentu selama berada di Thailand.
Mereka juga dilarang mengunjungi toko ganja dan apotek tertentu. Aktivitas berbasis air turut masuk dalam daftar kegiatan yang dibatasi.
Pelanggaran aturan terkait ganja dapat berujung hukuman penjara maksimal satu tahun. Pelanggar juga dapat dikenai denda sekitar USD600 atau Rp10,62 juta.
USS Abraham Lincoln dijadwalkan berada di Thailand selama sekitar empat hari. Setelah itu, kapal akan melanjutkan perjalanan menuju pangkalannya di San Diego.
Persinggahan tersebut memberi kesempatan bagi ribuan awak beristirahat setelah lebih dari 200 hari beroperasi. Sementara itu, USS George Washington telah mengambil alih tugas Lincoln di kawasan tersebut.
Dengan latar penugasan panjang dan jumlah personel besar, kunjungan kapal induk itu menjadi perhatian. Thailand kini berupaya menjaga kunjungan tersebut tetap terkendali di tengah sorotan Pattaya. (*)
Editor: Yulian Saputra


