Poin Penting:
- Pemerintah memproyeksikan stok beras mencapai 5 juta ton dalam tiga hari ke depan.
- Total potensi stok dari CBP, standing crop, dan sektor Horeka dinilai cukup untuk 11 bulan ke depan.
- Pemerintah memperkuat irigasi dan menyediakan benih unggul sebagai strategi menghadapi dampak El Nino.
Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa ancaman fenomena El Nino tidak menjadi persoalan bagi Indonesia, karena stok beras cadangan pemerintah diproyeksikan mencapai 5 juta ton dalam tiga hari ke depan. Kepastian ini, menurutnya, meneguhkan posisi Indonesia yang dinilai aman dalam menjaga stabilitas pangan nasional.
Cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog kini mencapai 4,9 juta ton, angka tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi tersebut, kata Amran, membuat Indonesia berada pada posisi yang kuat untuk menghadapi gejolak geopolitik global maupun dampak kekeringan ekstrem.
“Kalau dampak ini, ada El Nino Godzilla, itu enggak masalah. Kenapa enggak masalah? Karena stok (CBP) kita insyaallah tiga hari ke depan 5 juta ton, tertinggi selama Republik ini merdeka,” ujar Amran usai rapat bersama 170 bupati di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, seperti dikutip dari Antara.
Baca juga: Impor 1.000 Ton Beras AS, Zulhas Tegaskan Hanya untuk Segmen Khusus
Amran menambahkan bahwa stok saat ini bahkan hampir dua kali lipat dibandingkan periode-periode sebelumnya, sehingga pemerintah optimistis Indonesia tetap aman dari risiko krisis pangan. “Pernah dulu (stok CBP) mencapai 2,6 juta ton (pada) tahun 1984, sekarang hampir dua kali lipat,” ucapnya.
Ketahanan Pangan Diperkuat: Ketersediaan Nasional dan Proyeksi Panen
Selain CBP yang disimpan Bulog, pemerintah juga mengandalkan standing crop atau padi siap panen yang diproyeksikan mencapai 11 juta ton. Tambahan suplai ini dipandang krusial untuk mempertahankan ketersediaan di tengah potensi kekeringan akibat El Nino.
Di luar itu, pemerintah mencatat ketersediaan beras dari sektor Horeka—hotel, restoran, dan kafe/katering—yang mencapai 12,5 juta ton. Akumulasi dari seluruh sumber tersebut diyakini mampu mengamankan pasokan hingga 11 bulan, jauh lebih panjang dari estimasi durasi El Nino yang hanya enam bulan.
“Estimasi El Nino itu hanya enam bulan. Sedangkan cadangan (beras) kita (diproyeksikan mampu memasok hingga) 11 bulan. Artinya lebih dari cukup,” kata Amran.
Strategi Pemerintah: Pompanisasi, Irigasi, dan Perluasan Lahan
Untuk menjaga produktivitas, pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp5 triliun. Lebih dari Rp3 triliun di antaranya dialokasikan khusus untuk penguatan infrastruktur irigasi—mulai dari pompanisasi hingga optimalisasi sumber air pada lahan rawan kekeringan.
Pemerintah juga menyiapkan program pencetakan sawah baru seluas 30 ribu hektare demi memperluas area tanam dan meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap. Pengelolaan irigasi diperkuat pada lahan hingga 1,5 juta hektare melalui berbagai metode, termasuk pemanfaatan sungai, embung, dan sumber air lain.
Baca juga: Harga Beras Naik di Semua Level, Ini Data Lengkap BPS Januari 2026
Sebagai langkah taktis, pemerintah telah membuka pendaftaran bantuan pompa air sebanyak 80 ribu unit, yang menargetkan jangkauan hingga 1 juta hektare sawah terdampak kekeringan.
Dukungan Benih Unggul untuk Tingkatkan Produksi
Selain irigasi, sekitar Rp2 triliun dialokasikan untuk penyediaan benih unggul tahan kekeringan. Benih ini dirancang untuk mempercepat masa tanam dan mendorong peningkatan indeks pertanaman, sehingga petani dapat menanam 2-3 kali dalam setahun.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah menilai ketahanan pangan nasional berada dalam kondisi sangat aman. Langkah antisipatif ini memastikan bahwa stok beras tetap terjaga, sekaligus menjaga stabilitas harga dan pasokan bagi masyarakat.
Dengan fondasi cadangan pangan yang kuat dan langkah antisipatif yang sistematis, pemerintah menegaskan bahwa ancaman El Nino tidak mengganggu stabilitas nasional dan stok beras tetap berada pada level yang sangat aman. (*)
Editor: Yulian Saputra








