Poin Penting
- MSCI mempertahankan Indonesia sebagai emerging market, namun IHSG tetap melemah 3,56 persen ke level 5.883,88
- IHSG diperkirakan masih bergerak fluktuatif dan konsolidatif akibat sentimen MSCI yang berhadapan dengan kekhawatiran fiskal dan arus modal asing
- Status MSCI menahan tekanan pasar, tetapi belum cukup mendorong IHSG bullish tanpa perbaikan fundamental ekonomi.
Jakarta – Morgan Stanley Capital International (MSCI) tetap mempertahankan pasar modal Indonesia dalam kategori emerging Mmarket. Namun, keadaan tersebut masih belum memulihkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Hal itu tercermin dari IHSG pada perdagangan Rabu, 24 Juni 2026 yang ditutup merosot ke posisi 5.883,88 atau mengalami pelemahan hingga 3,56 persen dari level 6.101,33.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyebut dalam kondisi seperti ini, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan berada dalam fase konsolidasi dengan rentang pergerakan yang relatif lebar selama beberapa bulan ke depan.
Baca juga: MSCI Ingatkan RI Bisa Turun ke Frontier Market, Begini Tanggapan Airlangga
“Pasar berpotensi bergerak fluktuatif seiring tarik-menarik antara sentimen positif dari keputusan MSCI dan berbagai kekhawatiran terkait fiskal serta arus modal asing,” ucap Hendra dalam keterangannya dikutip, 25 Juni 2026.
Secara teknikal, kata Hendra, level 5.677 menjadi area support penting yang perlu dipertahankan untuk menjaga momentum pasar, sementara level 6.977 menjadi area resistance utama yang akan menjadi ujian bagi upaya penguatan indeks dalam jangka menengah.
“Selama belum terdapat katalis fundamental yang cukup kuat untuk mendorong perubahan sentimen secara signifikan, pergerakan IHSG diperkirakan akan lebih banyak bergerak dalam pola sideways dengan volatilitas tinggi di dalam rentang tersebut,” imbuhnya.
Baca juga: Selain Efek MSCI, Sentimen Ini juga Jadi Biang Kerok IHSG Anjlok
Sementara penguatan IHSG yang lebih berkelanjutan berpotensi terjadi apabila pemerintah mampu menunjukkan komitmen yang kuat dalam menjaga disiplin fiskal, mengendalikan defisit anggaran, menjaga stabilitas rupiah, serta mendorong kembalinya aliran dana asing ke pasar domestik.
Oleh karena itu, keputusan MSCI saat ini dapat dipandang sebagai faktor penahan risiko penurunan yang lebih dalam, namun belum cukup menjadi katalis utama untuk membawa IHSG memasuki fase bullish tanpa didukung perbaikan fundamental ekonomi dan fiskal yang lebih meyakinkan. (*)
Editor: Galih Pratama


