Ilustrasi: Penerimaan pajak negara. (Foto: Istimewa)
Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan rasio pajak (tax ratio) di kisaran 10,08 persen hingga 10,45 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2026.
Sri Mulyani mengatakan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan terus dijaga secara berkelanjutan melalui berbagai reformasi pada sisi pendapatan, ternasuk penerapan Coretax, bea dan cukai, dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
Sementara itu, untuk 2025 rasio pajak diproyeksikan sebesar 10,03 persen PDB.
Angka tersebut lebih rendah dari target di dalam APBN 2025 yang sebesar 10,24 persen, dan realisasi pada 2024 yang mencapai 10,08 persen.
Baca juga: Sri Mulyani Blak-blakan Sulitnya Naikkan Rasio Pajak
Kontribusi rasio pajak tersebut terdiri dari penerimaan pajak sebesar 8,72 persen dan penerimaan bea dan cukai sebesar 1,30 persen terhadap PDB pada 2025.
Keduanya masih di bawah target APBN yang masing-masing ditetapkan sebesar 9 persen dan 1,24 persen.
Kemudian, pada 2026, kontribusi dari rasio pajak yang dikoleksi dari pajak diproyeksikan di kisaran 8,90 persen hingga 9,24 persen, serta penerimaan bea dan cukai 1,18 persen hingga 1,21 persen terhadap PDB.
“Penerimaan pajak antara 8,9 persen hingga 9,24 persen, bea dan cukai 1,18 persen hingga 1,21 persen GDP,” jelasnya.
Baca juga: Rasio Pajak RI Harus Segini Agar Keluar dari Middle Income Trap
Sementara, proyeksi pertumbuhan negara bukan pajak (PNBP) yaitu 2 persen terhadap PDB pada akhir 2025, lebih rendah dari target APBN senilai 2,11 persen.
Lalu PNBP pada 2026 ditargetkan di kisaran 1,63 persen hingga 1,76 persen terhadap PDB.
Sehingga, pendapatan negara diproyeksikan sebesar 12,04 persen dari PDB pada 2025, lebih rendah dari target dalam APBN yang sebesar 12,36 persen.
Sedangkan, pada 2026 pendapatan negara ditargetkan di kisaran 11,71 persen hingga 12,22 persen.
“Pendapatan negara antara 11,7 persen hingga 12,22 persen dari GDP,” ujar Sri Mulyani. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting KB Bank balik laba Rp66,59 miliar di 2025 dari rugi Rp6,33 triliun pada… Read More
Poin Penting Bank Mandiri terbitkan global bond USD750 juta dengan kupon 5,25% dan tenor 5… Read More
Poin Penting OJK rampungkan empat reformasi pasar modal untuk tingkatkan transparansi. OJK akan temui MSCI… Read More
Poin Penting Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan menghasilkan komitmen bisnis Rp575… Read More
Poin Penting AAUI menyebut PSAK 117 masih jadi tantangan bagi industri asuransi umum. Kendala utama… Read More
Poin Penting Otoritas Jasa Keuangan menjatuhkan denda Rp96,33 miliar kepada 233 pelaku pasar modal pada… Read More