Poin Penting
- S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook stabil, mencerminkan ketahanan ekonomi di tengah tekanan fiskal dan global
- Afirmasi peringkat tersebut dinilai dapat menjaga kepercayaan investor asing, menekan risiko capital outflow, serta menjadi sentimen positif bagi IHSG
- IHSG ditutup menguat 1,92 persen ke level 6.037,84 pada perdagangan 13 Juli 2026, dengan nilai transaksi mencapai Rp12,15 triliun.
Jakarta – Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level ‘BBB’ dengan outlook stabil.
Keputusan ini mencerminkan ketahanan fundamental ekonomi nasional di tengah tekanan fiskal sementara dan dinamika eksternal global.
Dalam laporan terbarunya, S&P menilai komitmen pemerintah dalam menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi salah satu faktor pendukung.
Ekonomi Indonesia juga diproyeksikan tumbuh 5,1 persen pada tahun ini, didorong oleh potensi peningkatan pendapatan negara melalui reformasi hilirisasi mineral.
S&P melihat Indonesia mampu menghadapi pelemahan ekonomi sementara. Tekanan terhadap kondisi fiskal akibat faktor global dinilai masih dapat dikelola, terutama dengan dukungan harga komoditas yang relatif tinggi serta kebijakan efisiensi anggaran.
Selain itu, reformasi sektor mineral menjadi perhatian S&P. Sentralisasi pengelolaan sumber daya alam (SDA) dinilai berpotensi meningkatkan penerimaan negara sekaligus memperkuat nilai ekspor nasional.
Baca juga: S&P Pertahankan Peringkat Kredit Indonesia di Level BBB, Outlook Stabil
Dengan keputusan tersebut, S&P tetap mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level ‘BBB’ dan jangka pendek ‘A-2’. Outlook stabil menunjukkan keyakinan bahwa indikator ekonomi Indonesia akan kembali membaik seiring dengan berlanjutnya stabilitas kebijakan pemerintah.
Sementara itu, Sinarmas Sekuritas dalam analisanya menyebut afirmasi peringkat ‘BBB’ berpotensi memberikan dampak positif terhadap pasar saham.
Keputusan tersebut dinilai dapat menjaga kepercayaan investor asing, menekan risiko capital outflow secara besar-besaran, serta menjadi katalis positif bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Hal itu juga mendorong ekspektasi penguatan harga komoditas yang disebut S&P berpotensi memicu rotasi modal ke saham-saham sektor energi dan mineral seperti nikel, tembaga, dan coal,” tulis Sinarmas Sekuritas dalam analisanya dikutip 13 Juli 2026.
Selain itu, kepastian status investment grade dari S&P diperkirakan dapat mendorong aksi beli di harga bawah (bargain hunting), khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip yang telah mengalami koreksi cukup dalam.
Sebagai informasi, pada perdagangan Senin (13/7/2026), IHSG ditutup menguat signifikan ke level 6.037,84 atau naik 1,92 persen dibandingkan posisi sebelumnya di 5.924,36.
Baca juga: IHSG Masih Volatil, Pengamat Ungkap Sektor Saham yang Masih Menarik Dicermati
Berdasarkan statistik RTI Business, sebanyak 250 saham mengalami koreksi, 377 saham menguat, dan 167 saham bergerak stagnan.
Adapun volume perdagangan tercatat mencapai 26,34 miliar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 2,70 juta kali. Total nilai transaksi saham hari ini mencapai Rp12,15 triliun. (*)
Editor: Galih Pratama


