Poin Penting
- S&P Global mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB/A-2 dengan outlook stabil, mencerminkan kepercayaan terhadap ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global
- Pemerintah menilai fundamental ekonomi tetap kuat, didukung pertumbuhan sekitar 5 persen, disiplin fiskal, dan komitmen menjaga defisit APBN di bawah 3 persen PDB
- S&P juga menilai reformasi struktural, hilirisasi industri, penguatan Danantara, serta koordinasi pemerintah dan otoritas keuangan.
Jakarta – Keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil dinilai menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, keputusan tersebut mencerminkan kepercayaan internasional terhadap ketahanan ekonomi Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Menurut Purbaya, afirmasi peringkat tersebut menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meskipun dunia masih menghadapi tekanan akibat tingginya suku bunga global, volatilitas pasar keuangan, ketegangan geopolitik, serta fluktuasi harga energi dan komoditas.
Ia menilai keputusan S&P juga merupakan pengakuan atas konsistensi pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan melanjutkan agenda reformasi struktural.
“Keputusan S&P mempertahankan peringkat Indonesia pada level investment grade dengan outlook stabil menunjukkan bahwa arah kebijakan ekonomi nasional terjaga kredibel. Pemerintah akan terus menjaga disiplin fiskal, memperkuat basis penerimaan negara, meningkatkan kualitas belanja, serta memastikan pembiayaan dikelola secara prudent, efisien, dan berkelanjutan,” kata Purbaya dalam keterangannya dikutip 14 Juli 2026.
Baca juga: Airlangga: Rating BBB dari S&P Bukti Fundamental Ekonomi RI Solid
S&P menilai Indonesia memiliki prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat, ditopang kebijakan makroekonomi yang prudent, stabilitas politik dan kelembagaan, serta rasio utang pemerintah yang relatif rendah dibandingkan negara dengan peringkat serupa.
Lembaga pemeringkat tersebut memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap berada di kisaran 5 persen dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Untuk 2026, pertumbuhan diproyeksikan mencapai sekitar 5,1 persen.
Pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,6 persen secara tahunan, didorong kuatnya permintaan domestik dan meningkatnya aktivitas investasi. Pendapatan per kapita Indonesia juga diperkirakan naik menjadi sekitar USD5.200 pada tahun ini.
Komitmen Fiskal Diapresiasi
S&P turut memberikan penilaian positif terhadap komitmen pemerintah menjaga defisit APBN tetap di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Komitmen tersebut dipandang sebagai policy anchor yang memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal Indonesia.
Lembaga pemeringkat itu juga mencatat pemulihan penerimaan negara yang semakin kuat. Pendapatan negara pada semester I 2026 tumbuh sekitar 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, didukung penguatan administrasi perpajakan, peningkatan kepatuhan wajib pajak, serta optimalisasi penerimaan negara bukan pajak, khususnya dari sektor sumber daya alam.
S&P memperkirakan membaiknya penerimaan negara dan moderasi biaya pembiayaan akan memperkuat ruang fiskal Indonesia.
Purbaya menegaskan pemerintah akan terus memperkuat kualitas APBN melalui penguatan penerimaan perpajakan dan PNBP, peningkatan kepatuhan serta digitalisasi administrasi perpajakan, optimalisasi penerimaan dari sektor mineral dan sumber daya alam, peningkatan efektivitas belanja negara, serta pengelolaan pembiayaan yang efisien dan pengendalian risiko utang.
Reformasi Struktural Jadi Penopang
S&P menilai berbagai reformasi struktural yang dijalankan pemerintah berpotensi memperkuat pertumbuhan ekonomi jangka menengah.
Kebijakan hilirisasi industri berbasis sumber daya alam, penguatan tata kelola sektor mineral dan komoditas strategis, serta optimalisasi pengelolaan aset negara dipandang mampu meningkatkan nilai tambah domestik, memperbesar penerimaan negara, dan memperkuat kinerja ekspor.
Lembaga tersebut juga mencatat penguatan peran Danantara serta pengelolaan devisa hasil ekspor berpotensi meningkatkan efisiensi pengelolaan aset negara, memperkuat transparansi, mengurangi kebocoran ekonomi, dan mendukung pembiayaan investasi pada sektor strategis.
“Pemerintah akan memastikan seluruh agenda reformasi tersebut dilaksanakan secara transparan, akuntabel, dan disertai komunikasi kebijakan yang konsisten sehingga mampu menjaga kepercayaan dunia usaha dan investor,” imbuhnya.
Stabilitas Moneter dan Perbankan
Dari sisi moneter, S&P menilai Bank Indonesia memiliki independensi operasional dan instrumen kebijakan yang memadai untuk menjaga stabilitas moneter serta pasar keuangan di tengah meningkatnya volatilitas global.
Koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan otoritas sektor keuangan lainnya disebut akan terus diperkuat guna menjaga stabilitas nilai tukar, kecukupan cadangan devisa, likuiditas pasar keuangan, dan kepercayaan investor.
Baca juga: S&P Pertahankan Peringkat Utang RI Outlook Stabil, Bagaimana Dampaknya ke Pasar Saham?
S&P juga menilai sistem perbankan Indonesia tetap memiliki tingkat permodalan yang kuat dengan risiko kontinjensi terhadap pemerintah yang terbatas.
Purbaya menyebut outlook stabil mencerminkan keyakinan S&P bahwa tantangan fiskal maupun sektor eksternal Indonesia saat ini bersifat sementara dan akan membaik seiring pemulihan penerimaan negara, stabilisasi harga komoditas, penguatan nilai tukar, serta implementasi reformasi ekonomi yang semakin efektif.
“Pemerintah optimistis bahwa kombinasi fundamental ekonomi yang kuat, disiplin fiskal yang konsisten, reformasi struktural yang berkelanjutan, serta koordinasi kebijakan yang erat akan terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia dan meningkatkan daya saing nasional,” tutup Purbaya. (*)
Editor: Galih Pratama


