Poin Penting
- Inflasi Indonesia naik menjadi 3,34 persen, sementara PMI manufaktur turun ke 46,9 dan neraca dagang mencatat defisit pertama setelah 72 bulan surplus.
- DPR dan pemerintah menyepakati asumsi dasar ekonomi RAPBN 2027 dengan target pertumbuhan ekonomi 5,8-6,5 persen
- Pelaku pasar menantikan rilis cadangan devisa, IKK Indonesia, serta data perdagangan dan penjualan ritel AS pada pekan ini.
Jakarta – Sejumlah peristiwa penting mewarnai sektor ekonomi dan keuangan sepanjang pekan pertama Juli 2026. Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada kenaikan inflasi, defisit neraca dagang pertama dalam enam tahun, hingga kesepakatan asumsi dasar ekonomi makro dalam RAPBN 2027.
Sementara itu, dari eksternal, pelemahan data ekonomi Amerika Serikat (AS) dan keputusan OPEC+ menambah produksi minyak menjadi sentimen yang turut dicermati pelaku pasar.
Berdasarkan riset Syailendra Research, inflasi Indonesia pada Juni 2026 meningkat menjadi 3,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 3,08 persen. Sementara itu, inflasi inti juga naik menjadi 2,76 persen dari sebelumnya 2,59 persen.
Baca juga: Rapor IHSG Sepekan: Melemah 0,35 Persen, Kapitalisasi Pasar jadi Rp10.287 Triliun
Di sisi lain, aktivitas industri manufaktur menunjukkan perlambatan. Hal itu tercermin dari indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang turun ke level 46,9 pada Juni 2026 dari posisi 50 pada bulan sebelumnya.
Angka tersebut menandakan sektor manufaktur kembali berada di zona kontraksi.
Perkembangan lain yang menjadi sorotan adalah neraca dagang Indonesia yang mencatat defisit sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026.
Realisasi tersebut berbalik dari surplus USD90 juta pada April 2026 sekaligus mengakhiri tren surplus neraca dagang yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut.
Di sektor energi, PT Pertamina (Persero) mulai menyalurkan B50 secara bertahap sejak 1 Juli 2026 dengan volume awal mencapai 87,27 juta liter. Pada saat yang sama, perseroan juga menurunkan harga sejumlah bahan bakar nonsubsidi.
Harga Pertamax Turbo turun menjadi Rp19.300 per liter dari sebelumnya Rp20.750 per liter, sedangkan Pertamina Dex menjadi Rp21.150 per liter dari sebelumnya Rp24.800 per liter.
Sementara itu, pemerintah bersama DPR resmi menyepakati asumsi dasar ekonomi makro sebagai landasan penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Target pertumbuhan ekonomi ditetapkan pada kisaran 5,8-6,5 persen, inflasi 1,5-3,5 persen, nilai tukar rupiah di rentang Rp16.800-Rp17.500 per dolar AS, serta imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun sebesar 6,5-7,3 persen.
Dari global, pasar juga mencermati perlambatan ekonomi AS. Data Non-Farm Payrolls (NFP) pada Juni 2026 hanya bertambah 57 ribu tenaga kerja, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 110 ribu.
Selain itu, indeks manufaktur AS turun ke level 53,5 dari sebelumnya 54, yang mengindikasikan laju ekspansi sektor manufaktur mulai melambat.
Di pasar komoditas, kelompok negara produsen minyak OPEC+ memutuskan menambah produksi sebesar 188 ribu barel per hari (bpd) mulai Agustus 2026.
Dengan tambahan tersebut, total kenaikan produksi sejak dimulainya konflik geopolitik telah mencapai sekitar 940 ribu bpd, atau setara dengan sekitar 1 persen dari permintaan minyak global.
Baca juga: Ekonomi Solid, Purbaya Tegaskan Indonesia Tidak Sedang Menuju Krisis
Agenda Ekonomi Penting
Memasuki pekan ini, pelaku pasar akan mencermati sejumlah agenda ekonomi penting. Dari dalam negeri, perhatian akan tertuju pada rilis cadangan devisa Indonesia pada 7 Juli serta Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada 8 Juli.
Sementara dari AS, pasar akan menunggu data Trade Balance pada 7 Juli dan Retail Sales pada 8 Juli, yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar keuangan global. (*)


