Poin Penting:
- Tarif masuk Ragunan direncanakan naik dari Rp4.000 menjadi Rp10.000.
- Penyesuaian tarif diarahkan untuk memperbaiki fasilitas dan meningkatkan keamanan kandang.
- Ragunan masih bergantung pada subsidi APBD hingga 70 persen untuk operasional.
Jakarta – Tiket masuk Ragunan direncanakan naik menjadi Rp10.000 setelah tarifnya bertahan selama dua dekade. Kenaikan tersebut diarahkan untuk memperbaiki fasilitas, keamanan kandang, dan kualitas layanan.
Rencana itu dibahas Komisi C DPRD DKI Jakarta bersama pengelola Taman Margasatwa Ragunan. Penyesuaian tarif dinilai diperlukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap subsidi pemerintah daerah.
Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth menilai fasilitas Ragunan masih perlu dibenahi. Salah satu perhatian utama ialah keamanan kandang yang dinilai belum optimal.
Baca juga: Genjot Non Tunai, Bank DKI Beri Tiket Gratis Masuk Ragunan Untuk 496 Orang
Ragunan Siapkan Kenaikan Tarif untuk Perbaikan Fasilitas
Kenneth menyoroti insiden seorang anak terjatuh ke kandang gajah pada Mei 2026. Peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat sistem keamanan kawasan.
“Ini menjadi catatan kami, dan kami berharap standar keamanan bisa ditingkatkan seiring penyesuaian tarif,” tutur Kenneth dikutip Antara, Jumat (4/9).
Menurut Kenneth, tambahan penerimaan juga dapat menekan beban subsidi APBD DKI Jakarta. Saat ini, pemerintah daerah masih menanggung sekitar 70 persen biaya operasional Ragunan.
Kenaikan tarif diharapkan menjadi langkah awal menuju kemandirian finansial. Target tersebut sejalan dengan rencana transformasi Ragunan menjadi Badan Layanan Umum Daerah.
Kenneth mengatakan efisiensi anggaran daerah nantinya dapat dialihkan untuk kebutuhan publik lainnya. Dengan begitu, pengelolaan Ragunan diharapkan semakin mandiri dan berkelanjutan.
Tiket Masuk Ragunan Akan Dipakai untuk Pembenahan
Hasil inspeksi lapangan pada Kamis (3/9) turut menghasilkan sejumlah catatan penting. Tambahan pendapatan nantinya harus diarahkan kepada kebutuhan yang berdampak langsung.
Prioritas tersebut mencakup sanitasi, kebersihan toilet, dan program pemuliaan satwa. Kesejahteraan pegawai serta petugas teknis juga dinilai membutuhkan perhatian lebih.
Kenneth menegaskan kondisi satwa harus tetap menjadi prioritas pengelola. Program pertukaran satwa antarkebun binatang juga didorong untuk mendukung perkembangbiakan satwa.
Salah satu perhatian tersebut menyangkut gorila jantan yang belum memiliki pasangan. Skema pertukaran satwa diharapkan dapat menghadirkan gorila betina untuk program pengembangbiakan.
“Kesejahteraan pegawai dan petugas teknis di lapangan juga harus diperhatikan,” tegas Kenneth. Ia menilai seluruh kebutuhan tersebut memerlukan dukungan pembiayaan yang memadai.
Tambahan pendapatan juga diarahkan untuk memperkuat layanan kesehatan satwa. Kenneth menilai jumlah dokter hewan saat ini belum sebanding dengan populasi satwa.
Taman Margasatwa Ragunan kini memiliki lebih dari 2.200 satwa. Sementara itu, jumlah dokter hewan yang tersedia hanya delapan orang.
“Saat ini, jumlah dokter hewannya hanya berjumlah delapan orang, dan ini timpang sekali,” ujar Kenneth. Karena itu, penambahan dokter hewan dinilai menjadi kebutuhan yang harus diprioritaskan.
Kenaikan Tarif Ragunan Dinilai Masih Terjangkau
Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta Dimaz Raditya menilai tarif saat ini sudah tidak relevan. Tiket dewasa masih Rp4.000, sedangkan tiket anak-anak dipatok Rp3.000.
“Tarif Ragunan ini sudah 20 tahun tidak pernah naik,” kata Dimaz. Menurut dia, kondisi ekonomi dan pendapatan masyarakat Jakarta terus mengalami peningkatan.
Komisi C kemudian mengusulkan tarif baru sebesar Rp10.000 untuk masuk Taman Margasatwa Ragunan. Namun, besaran tersebut masih dalam tahap kajian.
Dimaz menilai angka Rp10.000 masih rasional bagi masyarakat Jakarta. Tarif tersebut juga dinilai ramah dibandingkan sejumlah destinasi wisata lain.
“Tarif sekarang paling mahal Rp4.000, rencana akan dinaikkan menjadi Rp10.000, tetapi masih terus kami kaji perihal angka,” ujar Dimaz.
Kepala Taman Margasatwa Ragunan drh. Endah Rumiyanti menyambut positif rencana tersebut. Pengelola mengakui pendapatan mandiri masih jauh di bawah kebutuhan operasional tahunan.
Total kebutuhan operasional mencapai sekitar Rp160 miliar setiap tahun. Sementara itu, pendapatan mandiri dari pengelolaan kawasan baru sekitar Rp30 miliar.
“Artinya, tingkat subsidi dari pemerintah daerah masih berada di kisaran 70 persen,” ungkap Endah.
Kondisi tersebut menunjukkan tingginya ketergantungan pengelola terhadap dukungan APBD.
Endah menegaskan kenaikan tarif bukan bertujuan mengomersialkan kawasan. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat pelayanan publik dan merealisasikan masterplan pengembangan.
Pembenahan fasilitas pendukung menjadi salah satu fokus utama pengelola. Perbaikan kandang serta penataan zonasi kawasan juga masuk dalam rencana tersebut.
Pengelola ingin menghadirkan ruang terbuka hijau sekaligus kebun binatang berstandar internasional. Karena itu, penyesuaian tarif Ragunan diarahkan untuk meningkatkan keamanan, kenyamanan, dan fungsi edukasi.
Rencana kenaikan tiket masuk Ragunan menjadi Rp10.000 masih harus melalui kajian lebih lanjut. Namun, arah kebijakannya jelas, yakni memperkuat layanan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap APBD. (*)
Editor: Galih Pratama


