Poin Penting:
- Rupiah ditutup melemah 0,52 persen ke level Rp17.952 per dolar AS pada perdagangan Rabu (24/6/2026).
- Ekspektasi The Fed mempertahankan suku bunga tinggi sepanjang 2026 mendorong penguatan dolar AS dan sentimen risk off global.
- Status emerging market Indonesia yang dipertahankan MSCI menjadi salah satu faktor penopang bagi rupiah di tengah tekanan eksternal.
Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (24/6), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap prospek suku bunga tinggi Amerika Serikat (AS) yang diperkirakan bertahan lebih lama. Di pasar spot, rupiah ditutup melemah ke level Rp17.952 per dolar AS.
Berdasarkan data perdagangan, mata uang Garuda terkoreksi 0,52 persen dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya yang berada di level Rp17.854 per dolar AS. Pelemahan tersebut juga sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang tertekan oleh penguatan dolar AS.
Tekanan terhadap pasar keuangan regional muncul di tengah meningkatnya sentimen risk off global. Investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang lebih aman setelah muncul ekspektasi bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Rupiah Tertekan Ekspektasi Suku Bunga Tinggi The Fed
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan mata uang domestik dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap tingkat suku bunga AS yang masih tinggi.
“Rupiah diperkirakan masih akan melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah sentimen risk off global yang kuat oleh kekhawatiran tingkat suku bunga tinggi,” katanya di Jakarta, dikutip Antara, Rabu (24/6).
Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah di Level Rp17.942 per Dolar AS
Menurut Lukman, penguatan dolar AS saat ini didorong oleh meningkatnya keyakinan pelaku pasar bahwa The Fed belum akan terburu-buru melonggarkan kebijakan moneternya. Kondisi tersebut membuat arus modal cenderung bergerak ke aset berbasis dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Mengutip Anadolu, The Fed diperkirakan tetap mempertahankan sikap kebijakan yang ketat sepanjang 2026 dan tahun berikutnya. Ekspektasi yang meningkat terhadap arah kebijakan moneter yang lebih hawkish itu turut mendorong kenaikan risiko di pasar global.
Proyeksi Suku Bunga The Fed Naik hingga 2027
Pandangan pasar tersebut diperkuat oleh revisi proyeksi suku bunga yang dilakukan bank sentral AS. The Fed menaikkan proyeksi suku bunga dana federal pada akhir 2026 menjadi 3,8 persen dari sebelumnya 3,4 persen.
Selain itu, proyeksi suku bunga pada 2027 juga dinaikkan menjadi 3,6 persen dari sebelumnya 3,1 persen. Sementara estimasi suku bunga jangka panjang tetap dipertahankan pada level 3,1 persen.
Kenaikan proyeksi tersebut mengindikasikan bahwa proses normalisasi kebijakan moneter di AS berpotensi berlangsung lebih lama. Situasi ini menjadi sentimen negatif bagi aset berisiko dan menambah tekanan terhadap rupiah serta mata uang negara berkembang lainnya.
Baca juga: BI Tegaskan Transaksi Pariwisata di Indonesia Wajib Gunakan Rupiah
Status Emerging Market Indonesia jadi Penopang
Meski dibayangi tekanan eksternal, terdapat sentimen positif yang dapat membantu menahan pelemahan mata uang domestik. Lukman menilai keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mempertahankan status emerging market (EM) pasar ekuitas Indonesia menjadi kabar baik bagi investor.
“Dari laporan MSCI, pertimbangan utamanya adalah fundamental ekonomi yang kuat, likuiditas serta kapitalisasi pasar yang memadai, dan keberhasilan reformasi pasar modal oleh otoritas yang berhasil meyakinkan investor institusi,” ujar Lukman.
Baca juga: Bos BI Yakin Rupiah Bakal Menguat, Ini Penopangnya
Menurutnya, keputusan MSCI tersebut mencerminkan kepercayaan investor global terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Dukungan tersebut berpotensi menjaga minat investasi asing di pasar domestik dan menjadi faktor penahan di tengah tekanan penguatan dolar AS.
Ke depan, pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi perkembangan kebijakan moneter AS. Selama ekspektasi suku bunga tinggi The Fed tetap bertahan, tekanan terhadap mata uang domestik diperkirakan masih berlanjut meski fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap solid. (*)
Editor: Yulian Saputra


