Poin Penting
- Sufmi Dasco Ahmad langsung menghubungi Dirut Pertamina setelah menerima laporan ancaman PHK 55.000 pekerja industri keramik akibat mahalnya gas industri.
- Asaki mencatat realisasi AGIT Januari–Mei 2026 hanya 47,5 persen sehingga industri terpaksa menggunakan LNG dengan biaya jauh lebih tinggi.
- Pelaku industri meminta realisasi pasokan gas minimal 80 persen agar daya saing tetap terjaga dan PHK dapat dicegah.
Jakarta – Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad turun tangan menyikapi persoalan pasokan dan harga gas industri yang dinilai mengancam keberlangsungan sektor keramik nasional. Langkah tersebut dilakukan setelah muncul informasi mengenai potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) puluhan ribu pekerja pabrik keramik di Bekasi, Jawa Barat, akibat tingginya biaya energi.
Kekhawatiran tersebut muncul di tengah kondisi pasokan gas industri yang semakin terbatas. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menilai kepastian pasokan gas menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing industri, mempertahankan tingkat utilisasi produksi, sekaligus mencegah terjadinya PHK.
Ketua Umum Asaki Edy Suyanto menyampaikan bahwa keberlanjutan pasokan energi dengan harga yang kompetitif sangat dibutuhkan agar industri tetap beroperasi secara optimal, menyerap tenaga kerja, dan terus memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional.
Baca juga: Mogok Kerja Lumpuhkan Operasional Kereta di Belanda, Protes Pemotongan Jaminan Sosial
Sufmi Dasco Ahmad Respons Ancaman PHK di Industri Keramik
Persoalan gas industri menjadi perhatian serius Dasco saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) di Jakarta, Selasa (23/6).
Dalam kesempatan tersebut, Dasco langsung menelepon Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri setelah menerima laporan mengenai ancaman PHK yang membayangi pekerja industri keramik.
“Halo, Pak Dirut Pertamina ini saya lagi di Raker KSPI. Ya, saya tadi ditanyakan mengenai masalah gas industri. Jadi, ini saya tadi sudah rancang pidato cuma buyar semua nih gara-gara soal gas,” kata Dasco saat menelepon Dirut Pertamina, seperti dikutip dari Antara.
Percakapan itu dilakukan secara terbuka di hadapan peserta Rakernas. Menanggapi hal tersebut, Simon memastikan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk untuk mencari solusi atas persoalan pasokan gas yang dikeluhkan industri.
“Siap Pak Dasco, saya tentunya akan segera koordinasi dengan pihak PGN dan dari kita tentunya komitmen kita agar supaya kita akan lakukan penyesuaian,” kata Simon.
Baca juga: Kasus Elpiji Oplosan, Pertamina Imbau Masyarakat Beli Gas di Pangkalan Resmi
Dalam forum tersebut, Dasco juga mengungkapkan adanya ancaman PHK terhadap sekitar 55.000 pekerja di sejumlah pabrik keramik di Bekasi akibat mahalnya harga gas industri. Ia menegaskan akan mendorong penyelesaian masalah tersebut agar operasional industri tetap berjalan.
Industri Keramik Keluhkan Realisasi Pasokan Gas yang Rendah
Di sisi lain, Asaki mengungkapkan bahwa realisasi Alokasi Gas Industri Tertentu (AGIT) selama Januari hingga Mei 2026 hanya mencapai 47,5 persen dari kebutuhan yang ditetapkan.
Kondisi tersebut memaksa pelaku industri menggunakan gas hasil regasifikasi LNG yang harganya jauh lebih mahal. Menurut Edy, harga LNG regasifikasi saat ini mencapai sekitar 20,5 dolar AS per MMBTU.
Akibatnya, industri keramik harus menanggung biaya gas rata-rata sebesar 15-16 dolar AS per MMBTU, hampir dua kali lipat dibandingkan harga gas melalui skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang ditetapkan sebesar 7 dolar AS per MMBTU.
Edy juga mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi yang diterima pelaku usaha, realisasi AGIT pada Juni 2026 berpotensi turun hingga di bawah 30 persen.
Baca juga: IHSG Rawan Koreksi, Saham BBCA hingga RAJA Direkomendasikan
Menurutnya, persoalan utama yang dihadapi industri bukan semata-mata harga, melainkan kepastian pasokan energi yang dapat menjamin keberlangsungan produksi pabrik.
“Kami tidak meminta keistimewaan. Yang dibutuhkan adalah kepastian ketersediaan pasokan gas dengan harga kompetitif agar industri dapat tumbuh, menyerap tenaga kerja, dan terus berkontribusi terhadap perekonomian nasional,” katanya.
Pasokan Gas Dinilai Kunci Menjaga Daya Saing dan Lapangan Kerja
Asaki menyebut industri keramik nasional saat ini menopang investasi besar sekaligus menyerap sekitar 150 ribu tenaga kerja. Karena itu, keberlanjutan pasokan gas menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga stabilitas sektor manufaktur.
Asosiasi tersebut menilai daya saing industri masih dapat dipertahankan apabila harga gas rata-rata berada di kisaran 7-9 dolar AS per MMBTU, setara dengan harga gas industri di Malaysia dan Thailand. Kondisi tersebut dinilai dapat tercapai apabila realisasi AGIT minimal mencapai 80 persen, sementara kekurangan pasokan dipenuhi melalui LNG.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) Yustinus Gunawan. Ia menegaskan bahwa ketidakpastian pasokan gas mulai mengganggu aktivitas produksi sektor manufaktur.
“Satu-satunya cara adalah realisasi pasokan gas bumi minimal 80 persen dari volume yang ditetapkan dalam Kepmen ESDM Nomor 76.K/2025,” katanya.
Baca juga: Pertamina EP dan SKK Migas Berhasil Temukan Cadangan Migas Baru di Indramayu
Yustinus menyebut informasi yang diterima pelaku industri menunjukkan realisasi AGIT saat ini hanya sekitar 27,5 persen dari alokasi yang telah ditetapkan. Sementara itu, penggunaan gas di luar AGIT dikenakan tarif sekitar 20 dolar AS per MMBTU per Juni 2026.
Persoalan tersebut kini menjadi perhatian berbagai pihak karena berpotensi memengaruhi keberlangsungan industri dan lapangan kerja. Upaya yang dilakukan Sufmi Dasco Ahmad untuk mendorong penyelesaian masalah pasokan gas diharapkan dapat membantu industri keramik menjaga produksi sekaligus mencegah PHK massal. (*)
Editor: Yulian Saputra


