Poin Penting
- RUPST PALM membagikan dividen Rp50 miliar setelah laba bersih 2025 melonjak 193% menjadi Rp1,85 triliun.
- Kinerja positif berlanjut pada kuartal I/2026, dengan laba periode berjalan naik 263,3% menjadi Rp2,32 triliun.
- Strategi investasi aktif PALM membuahkan hasil, termasuk investasi di MDKA yang telah meningkat lebih dari lima kali lipat dari modal awal.
Jakarta – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) memutuskan pembagian dividen tahun buku 2025 sebesar Rp50 miliar atau 2,97 persen dari laba bersih 2025.
Presiden Direktur Provident Investasi Bersama, Tri Boewono, mengatakan keputusan pembagian dividen tersebut sejalan dengan kinerja positif perseroan.
Langkah itu juga menjadi bukti komitmen manajemen dalam memberikan nilai tambah bagi pemegang saham sekaligus menjaga momentum pertumbuhan investasi.
“Pembagian dividen untuk tahun buku 2025 yang diputuskan RUPST hari ini menjadi salah satu bukti kinerja tim investasi kami yang sangat baik. Kami akan terus mendorong kapasitas dan kualitas SDM PALM untuk memastikan bahwa setiap investasi yang dilakukan Perusahaan mampu tumbuh positif secara berkelanjutan,” jelas Tri Boewono dalam Public Expose PALM usai RUPST, di Jakarta, Rabu, 17 Juni 2026.
Baca juga: RUPST DSSA Absen Tebar Dividen dan Angkat Wakil Presdir Baru
Tri menambahkan, perseroan masih berada dalam fase ekspansi portofolio yang aktif. Karena itu, selain membagikan dividen, PALM mempertahankan sebagian besar laba untuk memperkuat kapasitas investasi dan mengoptimalkan peluang di tiga sektor utama, yakni sumber daya alam, teknologi-media-telekomunikasi (TMT), serta logistik.
“Tiga sektor tersebut memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang sangat baik dan menjadi katalis utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kami berharap setiap investasi PALM juga mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Kinerja Kuartal I 2026 Berlanjut Positif
Sepanjang 2025, PALM mencatatkan laba bersih senilai Rp1,85 triliun atau meningkat 193 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan ini didorong oleh keuntungan neto atas investasi pada saham dan efek ekuitas senilai Rp2,23 triliun. Total aset perusahaan pada tahun 2025 sebesar Rp9,19 triliun, naik 17 persen dari Rp7,87 triliun pada 2024.
Memasuki 2026, PALM mempertahankan tren kinerja positifnya. Dalam tiga bulan pertama, Perusahaan membukukan laba periode berjalan sebesar Rp2,32 triliun, meningkat 263,3 persen dari kuartal I/2025.
Peningkatan ini juga ditopang oleh lonjakan keuntungan neto atas investasi pada saham dan efek ekuitas lainnya sebesar 287,2 persen menjadi Rp2,44 triliun. Total aset juga meningkat 25,6% menjadi Rp11,55 triliun dari Rp9,19 triliun.
“Kinerja 2025 dan kuartal I/2026 membuktikan bahwa strategi investasi aktif yang kami jalankan memberikan hasil yang konsisten. Kami membangun portofolio di sektor-sektor dengan fundamental kuat dan prospek pertumbuhan jangka panjang,” jelas Direktur PALM Ellen Kartika.
Baca juga: Antam Tebar Dividen Jumbo Rp5,04 Triliun, Setara 70 Persen Laba 2025
Ellen mengungkapkan, kinerja PALM pada 2025 dan berlanjut pada awal 2026 ini salah satunya dipengaruhi oleh keberhasilan perusahaan dalam menyelesaikan divestasi saham PT Mega Manunggal Property Tbk. (MMLP) melalui entitas anak PT Suwarna Arta Mandiri (SAM) pada September 2025.
Selain memberikan realisasi keuntungan yang besar, karena selisih nilai beli dan harga jual yang tinggi, divestasi ini memungkinkan PALM untuk pembayaran utang dipercepat untuk memperkuat struktur keuangan dan merestrukturisasi portofolio investasi ke depan.
Manajemen Portofolio
Di tengah dinamika geopolitik global dan volatilitas pasar keuangan, PALM melakukan manajemen portofolio secara aktif dan adaptif.
Salah satu cermin nyata dari pendekatan investasi aktif PALM adalah kepemilikannya pada dua entitas tambang kelas dunia yang beroperasi di Indonesia: PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).
MDKA, sebagai perusahaan pertambangan emas, perak, tembaga, dan nikel terintegrasi, berada dalam posisi yang menguntungkan di tengah tren harga komoditas logam mulia dan logam industri yang tetap tinggi secara global.
Per 31 Maret 2026, PALM memegang 1,34 miliar saham MDKA dengan nilai wajar investasi mencapai Rp4,20 triliun.
PALM memperoleh saham MDKA pada harga rata-rata Rp512,53 per saham, sementara nilai wajar saat ini mencerminkan harga pasar Rp3.140 per saham.
Investasi PALM pada saham MDKA telah meningkat 512,65 persen, artinya nilai investasi tumbuh menjadi lebih dari 5 kali lipat dari modal awal.
“Dalam kondisi ekonomi yang penuh tantangan, aset dengan karakteristik defensif dan memiliki fundamental kuat menjadi semakin menarik. MDKA merupakan salah satu contoh investasi yang kami nilai memiliki posisi strategis karena didukung eksposur terhadap komoditas emas yang saat ini menunjukkan tren positif,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


