Poin Penting
- Rupiah dibuka melemah ke Rp18.098 per dolar AS pada perdagangan Rabu (29/7/2026).
- BI memperkuat bauran kebijakan moneter melalui triple intervention, SRBI, dan instrumen likuiditas.
- Kebijakan moneter dan makroprudensial dioptimalkan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya menjaga stabilitas ekonomi, termasuk nilai tukar rupiah, di tengah tingginya ketidakpastian global guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Adapun pada perdagangan Rabu (29/7/2026), rupiah dibuka melemah ke level Rp18.098 per dolar Amerika Serikat (AS), turun 0,08 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp18.083 per dolar AS.
Direktur Eksekutif Senior, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, stabilitas ekonomi menjadi prasyarat utama untuk menjaga momentum pertumbuhan.
“Di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi,” ujar Erwin dalam keterangannya, Rabu, 29 Juli 2026.
Baca juga: Rupiah Tertekan ke Rp18.098/USD, Efek Harga Minyak-Mundurnya Perry Warjiyo Berlanjut
Menurut Erwin, BI terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Upaya tersebut tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan, tetapi juga memperkuat berbagai instrumen moneter.
Instrumen tersebut mencakup triple intervention di pasar valuta asing melalui transaksi spot, non-deliverable forward (NDF), dan domestic non-deliverable forward (DNDF).
Selain itu, BI meoptimalkan instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendorong masuknya aliran modal asing.
Likuiditas dan Pembiayaan Terus Diperkuat
BI juga memperkuat strategi pengelolaan likuiditas di pasar uang dan perbankan. Sejalan dengan itu, posisi SRBI dinilai berada dalam tren yang lebih terkendali.
“Ke depan, penerbitan SRBI terus diarahkan agar selaras dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas dan mendukung masuknya aliran modal asing guna memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah,” imbuhnya.
Baca juga: BI Pilih Insentif Ketimbang Naikkan Suku Bunga untuk Tarik Modal Asing
Di sisi lain, BI terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, salah satunya melalui penguatan implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna mendorong pembiayaan ke sektor-sektor prioritas.
“Termasuk penguatan mekanisme redistribusi likuiditas di sektor keuangan agar transmisi pembiayaan menjadi semakin efektif. Selain itu, kebijakan digitalisasi sistem pembayaran juga terus diakselerasi sehingga makin mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Erwin. (*)
Editor: Yulian Saputra


