Jakarta – Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah telah menyentuh Rp17.932 per dolar AS pada perdagangan hari ini Rabu (3/6/2026) per pukul 11.03 WIB atau melemah 0,46 persen.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyatakan, pelemahan tersebut mencerminkan bahwa pasar masih melihat tekanan rupiah sebagai gabungan antara tekanan global dan tekanan domestik, bukan lagi sekadar faktor musiman.
“Sentimen global yang paling dominan masih berasal dari ketidakpastian konflik AS-Iran, risiko pasokan energi melalui Selat Hormuz, harga minyak yang tetap tinggi, dan permintaan dolar AS sebagai aset aman,” kata Josua saat dihubungi Infobanknews, Rabu 3 Juni 2026.
Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah Seiring Kembali Meningkatnya Eskalasi AS-Iran
Josua mencatat, mata uang Asia tercatat masih bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan damai AS-Iran, sementara harga energi yang tinggi menekan mata uang negara pengimpor energi. Menurutnya, kondisi ini sangat relevan bagi Indonesia sebagai pengimpor minyak, LPG, dan biaya logistik yang membutuhkan dolar, sehingga setiap kenaikan harga energi langsung menambah permintaan valas dan memperlemah rupiah.
Dari sisi domestik, tekanan rupiah juga diperbesar oleh melemahnya bantalan neraca perdagangan. Surplus perdagangan April 2026 hanya sekitar USD0,09 miliar, turun tajam dari USD3,32 miliar pada Maret 2026.
Sementara, secara kumulatif surplus Januari-April 2026 neraca perdagangan juga menurun dari USD11,07 miliar menjadi USD5,64 miliar.
“Ini berarti pasokan dolar dari perdagangan barang menjadi jauh lebih tipis. Pada saat impor tumbuh tinggi, terutama untuk bahan baku, energi, dan barang modal, kebutuhan dolar meningkat, sementara tambahan dolar dari ekspor tidak cukup besar untuk menyeimbangkan pasar,” jelasnya.
“Jadi, rupiah melemah bukan karena Indonesia langsung defisit perdagangan, tetapi karena kualitas surplusnya sudah melemah dan tidak lagi cukup kuat menjadi penyangga nilai tukar,” tambah Josua.
Selain itu, tekanan inflasi dari barang impor juga mulai menjadi perhatian pasar. Inflasi Mei 2026 naik ke 3,08 persen dari 2,42 persen pada April 2026, dengan tekanan yang terutama berasal dari kenaikan biaya produksi, biaya input impor, energi, BBM, transportasi, pangan, dan permintaan musiman Iduladha.
PMI Manufaktur Mei 2026 juga menunjukkan kenaikan beban biaya produksi menjadi yang kedua tercepat sejak survei dimulai pada 2011, sementara produksi turun untuk bulan ketiga berturut-turut. Josua menyatakan, hal ini penting karena pasar membaca pelemahan rupiah bukan hanya sebagai gejala pasar keuangan, tetapi juga sebagai risiko biaya produksi, inflasi, margin usaha, dan daya beli.
Lebih lanjut, faktor musiman seperti pembayaran dividen dan Haji sudah mulai berkurang setelah melewati puncaknya, sehingga secara teori tekanan permintaan dolar domestik bisa mereda pada Juni 2026. Tekanan rupiah pada April dan Mei banyak diperberat oleh kebutuhan dolar AS di kuartal II, terutama pembayaran dividen, kupon, dan kewajiban nonresiden, sementara faktor haji juga menambah kebutuhan valas pada periode yang sama.
“Jadi, setelah faktor musiman ini melewati puncaknya, peluang stabilisasi rupiah memang lebih terbuka,” imbuhnya.
Meski demikian, faktor musiman hanya menjadi salah satu sumber tekanan. Josua menilai apabila harga minyak tetap tinggi, surplus perdagangan tipis, arus modal belum kuat, dan pasar masih khawatir pada fiskal, maka hilangnya faktor dividen dan haji belum cukup untuk membuat rupiah langsung menguat tajam.
“Karena itu, menurut saya peluang rupiah menguat bulan ini tetap ada, tetapi lebih realistis disebut sebagai penguatan terbatas atau stabilisasi bertahap, bukan pembalikan cepat,” ungkapnya.
Josua menyebut, rupiah bisa kembali menguat ke kisaran Rp17.600 sampai Rp17.750 per dolar AS jika tiga syarat terpenuhi yakni, harga minyak turun lebih jelas karena kemajuan damai AS-Iran, arus asing kembali masuk ke SBN dan SRBI, serta pemerintah memberi sinyal fiskal yang meyakinkan.
Namun, jika harga minyak kembali naik, pembicaraan damai terhambat, dolar AS menguat kembali, dan investor masih melihat risiko fiskal serta neraca eksternal, maka rupiah berisiko bertahan di kisaran Rp17.800 sampai Rp18.000 per dolar AS.
“Rupiah sudah tercatat menuju bulan terburuk sejak Oktober 2024 karena kekhawatiran belanja fiskal dan harga minyak tinggi, sehingga pasar masih membutuhkan bukti perbaikan yang lebih kuat, bukan hanya pernyataan optimistis,” paparnya.
Di sisi lain, kenaikan BI Rate dan intervensi BI tetap penting, tetapi tidak bisa sendirian menguatkan rupiah. BI sudah memperkuat strategi stabilisasi melalui intervensi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), Non-deliverable forward (NDF), penguatan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pembelian SBN di pasar sekunder, pembatasan pembelian valas tanpa transaksi dasar, serta pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan pembelian dolar yang tinggi.
Menurutnya, langkah tersebut membantu menahan volatilitas, namun efektivitasnya akan terbatas jika pasokan devisa riil dari ekspor, devisa hasil ekspor (DHE), investasi, dan arus portofolio belum membaik.
“Dengan kata lain, BI bisa meredam gejolak, tetapi rupiah akan lebih kuat secara berkelanjutan jika didukung perbaikan neraca eksternal dan kredibilitas fiskal,” ungkapnya.
Josua juga menilai rupiah di level sekitar Rp17.900 per dolar AS sudah semakin jauh dari nilai wajarnya secara fundamental. Model Real Effective Exchange Rates (REER) menunjukkan nilai wajar rupiah di bawah level Rp17.000 per dolar. Sementara data April menunjukkan REER rupiah turun ke 91,44, yang mengindikasikan rupiah makin murah secara nilai riil.
“Namun, undervalued tidak berarti otomatis menguat cepat. Mata uang bisa tetap murah dalam waktu cukup lama jika sentimen risiko masih buruk dan pasar belum yakin terhadap arah kebijakan. Jadi, argumen rupiah murah hanya menjadi alasan untuk potensi pemulihan, bukan jaminan pemulihan segera,” tandasnya.
Baca juga: Rupiah Ambruk Hampir ke Rp17.900 per Dolar AS, BI Buka Suara
Dalam kondisi tersebut, Josua menyatakan stabilitas nilai tukar rupiah harus terus dijaga dengan kombinasi kebijakan yang seimbang. Dia menyarankan, BI perlu tetap hadir di pasar, tetapi jangan terlalu banyak menghabiskan cadangan devisa hanya untuk mempertahankan level tertentu.
Kemudian, pemerintah perlu mempercepat realisasi DHE, memperkuat pasokan dolar dari ekspor, mengurangi impor energi yang tidak mendesak, menjaga komunikasi fiskal agar tidak menimbulkan kekhawatiran defisit, serta memastikan kebijakan ekspor SDA tidak menambah ketidakpastian investor.
“Dalam jangka pendek, rupiah kemungkinan bisa menguat jika tekanan musiman benar-benar mereda, tetapi dalam jangka menengah, penguatan yang sehat hanya akan terjadi jika pasar melihat pasokan devisa membaik, risiko fiskal terkendali, dan kebijakan pemerintah lebih konsisten,” ujar Josua. (*)
Editor: Galih Pratama


