Poin Penting
- Bank Sentral Jepang menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 1 persen, level tertinggi sejak 1995, untuk mengantisipasi risiko inflasi yang terus meningkat
- Lonjakan harga energi, inflasi grosir 6,3 persen, dan pelemahan yen menjadi faktor utama di balik kebijakan tersebut
- Pasar memperkirakan BOJ masih berpeluang menaikkan suku bunga lagi hingga akhir 2026 jika tekanan inflasi berlanjut.
Jakarta – Bank Sentral Jepang (BOJ) resmi mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,0 persen, Selasa (16/6). Langkah ini menjadi kenaikan suku bunga tertinggi dalam 31 tahun terakhir dan menandai berlanjutnya normalisasi kebijakan moneter Jepang di tengah krisis energi akibat perang Amerika Serikat (AS)-Iran.
Wakil Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ), Shinichi Uchida, mengatakan bank sentral memutuskan menaikkan suku bunga dengan mempertimbangkan risiko inflasi yang berpotensi bergerak di atas target.
“Dengan inflasi inti yang mendekati 2 persen, kami perlu mewaspadai risiko kenaikan harga. Kami akan mengarahkan kebijakan agar tidak tertinggal,” ujar Uchida dinukil Reuters, Rabu, 17 Juni 2026.
Dengan kenaikan tersebut, kata Uchida, suku bunga Jepang kini berada di level 1 persen, naik dari sebelumnya 0,75 persen. Level ini menjadi yang tertinggi sejak 1995.
Baca juga: Global Bond Danantara Laris Manis di Tengah Outflow Asing: Kepercayaan Pasar atau Duit Konglo Indonesia yang “Menyamar”?
Lanjutnya, BOJ menilai bahwa ekspektasi inflasi jangka menengah dan panjang terus meningkat sehingga terdapat risiko inflasi inti bergerak melampaui target yang ditetapkan.
Inflasi dan Harga Energi Jadi Tantangan
Diketahui, bagi Jepang yang masih bergantung pada impor bahan bakar, lonjakan harga minyak global berpotensi memperbesar biaya produksi dan harga barang konsumsi.
Meski kesepakatan damai antara AS dan Iran telah meredakan sebagian kekhawatiran pasar, tekanan harga di Jepang masih terlihat kuat. Inflasi grosir Jepang pada Mei 2026 tercatat mencapai 6,3 persen, level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
BOJ menilai perusahaan-perusahaan kini lebih cepat meneruskan kenaikan biaya energi kepada konsumen dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini berpotensi mempercepat kenaikan harga berbagai barang dan jasa.
Selain itu, pelemahan yen juga menjadi perhatian utama. Mata uang Jepang yang lemah meningkatkan biaya impor dan berpotensi memperkuat tekanan inflasi domestik.
Di sisi lain, BOJ pun memutuskan menghentikan sementara program pengurangan pembelian obligasi mulai April 2027. Bank sentral akan tetap membeli sekitar 2 triliun yen atau setara 12,5 miliar dolar AS obligasi pemerintah Jepang (JGB) setiap bulan.
BOJ juga tidak lagi melakukan evaluasi tahunan terhadap rencana pengurangan pembelian obligasi. Namun, bank sentral membuka peluang untuk menyesuaikan volume pembelian apabila kondisi ekonomi dan pasar keuangan berubah.
Langkah tersebut menunjukkan BOJ masih berhati-hati dalam menarik stimulus moneter meskipun telah menaikkan suku bunga.
Baca juga: Sepekan, BI Naikkan Suku Bunga hingga AS-Iran Sepakat Damai, Sentimen Pasar Berubah Arah
Pasar Prediksi Kenaikan Suku Bunga Berlanjut
Sejumlah analis memperkirakan BOJ masih akan melanjutkan siklus kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.
Ahli strategi suku bunga Nomura Securities, Mari Iwashita, menilai fokus kebijakan BOJ kini semakin mengarah pada pengendalian inflasi.
“Jika inflasi terus meningkat selama musim panas, BOJ berpeluang menaikkan suku bunga pada Oktober. Jika tekanan harga mereda, kenaikan berikutnya mungkin dilakukan menjelang akhir tahun,” ujar Iwashita.
Meski demikian, pasar keuangan merespons keputusan tersebut secara positif. Indeks Nikkei Jepang naik ke rekor tertinggi karena investor menilai BOJ tidak akan terburu-buru melakukan kenaikan suku bunga lanjutan dalam waktu dekat.
Sementara itu, nilai tukar yen relatif stabil di kisaran 160 yen per dolar AS, level yang selama ini dipantau pelaku pasar sebagai batas potensi intervensi pemerintah Jepang. (*)
Editor: Galih Pratama


