Poin Penting
- Rupiah dibuka melemah 0,22 persen ke level Rp17.585 per dolar AS.
- Kenaikan harga minyak global dan penguatan dolar AS menekan rupiah.
- Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.550-Rp17.654 per dolar AS.
Jakarta – Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Rupiah berada di level Rp17.585 per dolar Amerika Serikat (AS), turun 0,22 persen dari penutupan kemarin di Rp17.547 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan rupiah berpotensi kembali tertekan akibat kenaikan tajam harga minyak global, penguatan dolar AS, serta imbal hasil US Treasury (UST) 10 tahun yang mendekati 5 persen.
Indeks dolar AS (DXY) menguat 0,23 persen menjadi 99,05 dan naik 0,74 persen secara year-to-date (ytd). Penguatan tersebut didukung kenaikan imbal hasil US Treasury dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
“Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali meningkat, dengan pasar memperkirakan probabilitas sekitar 70 persen untuk kenaikan 25 bps pada pertemuan FOMC 15–16 September, naik dari sekitar 62 persen sebelum rilis Producer Price Index (PPI),” kata Andry, Jumat, 11 September 2026.
Baca juga: Rupiah Diproyeksi Menguat, DBS Beberkan Penopangnya
Adapun PPI AS naik 0,4 persen secara bulanan (mtm) pada Agustus 2026. Angka tersebut sesuai konsensus pasar, namun lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,1 persen pada periode sebelumnya.
Secara tahunan, PPI AS meningkat menjadi 5,4 persen dari sebelumnya 4,8 persen.
Harga Minyak Tembus USD107,6 per Barel
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent melonjak 6,34 persen menjadi USD107,6 per barel, level tertinggi sejak Mei 2026.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah serangan terhadap kapal dan infrastruktur energi semakin mengganggu jalur pasokan melalui Selat Hormuz dan Laut Merah.
Menurut Andry, pasar selanjutnya akan mencermati rilis Consumer Price Index (CPI) AS pada malam ini. Inflasi headline diperkirakan mencapai 0,4 persen secara mtm dan 3,4 persen secara yoy, sedangkan core CPI diperkirakan sebesar 0,2 persen mtm dan 2,4 persen yoy.
“Rilis CPI AS malam ini akan menjadi katalis eksternal utama. CPI yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan memberikan tekanan pelemahan lebih lanjut terhadap rupiah,” ungkapnya.
Baca juga: Kriminalisasi Kredit Macet BRI: Kerugian Nol Rupiah, Terdakwa Tetap, dan Paradoks Hukum yang Menyesatkan Ekonomi
Dengan kondisi tersebut, Andry memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.550 hingga Rp17.654 per dolar AS hari ini.
“Pandangan kami rupiah hari ini diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.550 hingga Rp17.654 per dolar AS,” imbuh Andry. (*)
Editor: Yulian Saputra


