Poin Penting
- Rupiah dibuka stagnan di Rp17.748 per dolar AS pada Jumat (21/8), seiring DXY menguat tipis dan imbal hasil UST kembali naik
- Sentimen risk-off, kenaikan yield UST, penguatan dolar AS, serta harga minyak Brent yang mendekati USD94 per barel berpotensi membatasi penguatan rupiah
- Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.720-Rp17.783 per dolar AS hari ini.
Jakarta – Nilai tukar rupiah stabil pada awal perdagangan hari ini, Jumat (21/8/2026). Rupiah dibuka pada level Rp17.748 per dolar Amerika Serikat (AS), atau stagnan seperti penutupan kemarin.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, indeks dolar AS (DXY) menguat tipis 0,06 persen menjadi 98,90 setelah mengalami penurunan sebelumnya.
Kenaikan kembali imbal hasil US Treasury (UST) sebagian membalikkan reli penguatan yang sebelumnya dipicu oleh program pembelian kembali obligasi pemerintah AS yang diperluas oleh Treasury.
Baca juga: BI Siapkan Jurus Jaga Rupiah dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi di 2026
Imbal hasil UST tenor 30 tahun kembali ke kisaran 5,24 persen, seiring pasar yang tetap khawatir bahwa program buyback obligasi pemerintah AS hanya akan memberikan kelegaan sementara tanpa mengatasi tekanan fiskal, inflasi, dan pasokan obligasi yang masih persisten.
“Kombinasi kenaikan imbal hasil UST dan sentimen risk-off memberikan dukungan moderat terhadap dolar AS,” ujar Andry, Jumat, 21 Agustus 2026.
Lebih lanjut, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026 masih terbatas, namun dipandang masih terbuka terhadap kemungkinan kenaikan.
Kontrak berjangka Fed funds mengindikasikan probabilitas sekitar 33–35 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 bps.
“Sementara risalah FOMC Juli menunjukkan bahwa sejumlah pembuat kebijakan masih mengkhawatirkan inflasi dan mendukung pengetatan lebih lanjut apabila tekanan harga tetap berlanjut,” tambahnya.
Andry menyebutkan, pasar akan mencermati data awal PMI AS periode Agustus 2026 yang dirilis hari ini untuk memperoleh indikasi lebih lanjut mengenai momentum ekonomi dan tekanan inflasi.
“Perhatian selanjutnya akan beralih pada pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam pertemuan Jackson Hole pekan depan untuk mendapatkan panduan yang lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter,” imbuhnya.
Baca juga: BI Optimistis Rupiah Tetap Stabil, Ini Strategi yang Disiapkan
Sementara, rupiah menguat 0,49 persen menjadi Rp17.746 per dolar AS, namun kenaikan kembali imbal hasil UST, penguatan dolar AS, serta harga minyak Brent yang mendekati USD94 per barel berpotensi membatasi penguatan rupiah lebih lanjut hari ini, meskipun sentimen pasar domestik membaik dan arus dana asing ke pasar saham terus berlanjut.
Andry memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.720 hingga Rp17.783 per dolar AS.
“Pandangan kami rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.720 hingga Rp17.783 per dolar AS,” kata Andry. (*)
Editor: Galih Pratama


