Rupiah Dibuka Menguat, Investor Terus Cermati Gencatan Senjata Konflik AS-Iran

Rupiah Dibuka Menguat, Investor Terus Cermati Gencatan Senjata Konflik AS-Iran

Poin Penting

  • Rupiah menguat tipis ke Rp17.083 per dolar AS di awal perdagangan, didorong pelemahan indeks dolar AS.
  • Sentimen global masih dominan, terutama ketegangan konflik AS-Iran dan rapuhnya gencatan senjata di Timur Tengah.
  • Pasar menanti data inflasi AS, yang akan menentukan arah suku bunga dan pergerakan rupiah selanjutnya.

Jakarta – Nilai tukar rupiah menguat pada awal perdagangan, Jumat (10/4) pagi. Rupiah dibuka di level Rp17.083 per dolar Amerika Serikat (AS), atau menguat tipis 0,04 persen dibandingkan penutupan kemarin di Rp17.090 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan, indeks dolar AS (DXY) diperdagangkan sedikit melemah, turun di bawah 99.

Ia mencermati, investor masih memantau perkembangan di Timur Tengah, terutama gencatan senjata yang dinilai semakin rapuh menjelang pembicaraan damai yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat waktu setempat.

“Kesepakatan tersebut menunjukkan tanda-tanda tekanan karena Israel tetap melanjutkan konfliknya dengan Hizbullah di Lebanon, sementara Teheran menuduh AS melanggar perjanjian. Selat Hormuz juga masih ditutup,” kata Andry, Jumat 10 April 2026.

Baca juga: Konflik AS-Iran Tekan Biaya Logistik, ALFI Minta Regulasi KBLI Dievaluasi

Dari sisi ekonomi global, inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Februari 2026 meningkat sesuai ekspektasi. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi kuartal IV direvisi lebih rendah dan klaim pengangguran awal mengalami kenaikan.

Indeks harga PCE tercatat naik 0,4 persen secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,3 persen pada Januari 2026. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi dalam setahun, didorong lonjakan harga barang sebesar 0,7 persen setelah sebelumnya stagnan.

Peningkatan harga terutama terjadi pada kendaraan bermotor dan suku cadangnya, barang rekreasi, bensin, pakaian, dan makanan.

Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah, Pelaku Pasar Ragu Gencatan Senjata AS-Iran Bertahan

Di sisi lain, ekonomi AS tumbuh 0,5 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal IV 2025. Angka ini direvisi turun dari estimasi sebelumnya sebesar 0,7 persen, bahkan lebih rendah dari pembacaan awal sebesar 1,4 persen, terutama akibat penurunan investasi.

Pasar Menanti Data Inflasi dan Kebijakan The Fed

“Perhatian kini tertuju pada laporan inflasi CPI (Consumer Price Index) Maret 2026 yang dirilis hari ini untuk melihat sejauh mana konflik Timur Tengah berdampak pada harga,” jelasnya.

Selain itu, risalah rapat FOMC Maret 2026 menunjukkan kekhawatiran bahwa konflik dapat memicu inflasi berkepanjangan sehingga berpotensi mendorong kenaikan suku bunga lebih lanjut.

“Meskipun mereka masih memperkirakan satu kali pemangkasan suku bunga tahun ini,” tambahnya.

Baca juga: Mirae Asset Sebut Tekanan Eksternal Masih Bayangi IHSG dan Rupiah

Proyeksi Pergerakan Rupiah

Dengan berbagai sentimen tersebut, Andry memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.040 hingga Rp17.120 per dolar AS pada hari ini.

“Pandangan kami rupiah hari ini akan bergerak di sekitar Rp17.040 dan Rp17.120 per dolar AS,” imbuh Andry. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

News Update

Netizen +62