Poin Penting
- Rupiah dibuka melemah 0,29 persen ke Rp18.066 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya Rp18.014 per dolar AS
- Pelemahan rupiah dipicu penguatan dolar AS akibat meningkatnya ketegangan Timur Tengah, serangan AS ke Iran, dan lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi.
- Pasar kini meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi sekitar 69 persen.
Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah pada awal perdagangan hari ini, Kamis (9/7/2026). Rupiah dibuka pada level Rp18.066 per dolar Amerika Serikat (AS), atau melemah 0,29 persen dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di Rp18.014 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, indeks dolar AS (DXY) sedikit berubah di sekitar level 101, karena investor menilai peningkatan ketegangan terbaru di Timur Tengah.
AS melancarkan serangan baru terhadap Iran dan mencabut keringanan yang sebelumnya memungkinkan negara tersebut menjual minyak mentah ke pasar global.
“Perkembangan ini terjadi setelah serangkaian serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir,” ujar Andry, Kamis, 9 Juli 2026.
Baca juga: Purbaya Siapkan Pembiayaan APBN Berbasis Renminbi, Ketergantungan pada Dolar AS Dikurangi
Selain itu, kata Andry, harga minyak kembali melonjak, memunculkan kembali kekhawatiran mengenai inflasi dan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter. Mencerminkan perubahan sentimen ini, para pelaku pasar meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed.
“Dengan probabilitas tersirat untuk kenaikan suku bunga pada September meningkat menjadi sekitar 69 persen, dibandingkan 58 persen pada hari sebelumnya,” tambahnya.
Sementara itu, pejabat The Fed berbeda pendapat mengenai prospek suku bunga ke depan dan membahas berbagai kemungkinan perkembangan ekonomi serta kebijakan moneter, berdasarkan risalah pertemuan FOMC pada Juni 2026.
“Para peserta umumnya menilai bahwa risiko kenaikan inflasi masih tinggi, dan beberapa di antaranya menyatakan bahwa, dengan mempertimbangkan perkembangan tersebut, terdapat alasan untuk menaikkan suku bunga,” imbuhnya.
Baca juga: Fitch: Risiko Perusahaan Indonesia Meningkat, Pelemahan Rupiah jadi Sorotan
Adapun the Fed mempertahankan suku bunga federal funds rate tidak berubah di kisaran 3,50–3,75 persen pada Juni 2026, sesuai dengan ekspektasi pasar.
Dengan kondisi tersebut, Andry memperkirakan rupiah har ini akan bergerak di kisaran Rp17.960 hingga Rp18.030 per dolar AS.
“Pandangan kami rupiah hari ini akan bergerak di sekitar Rp17.960 dan Rp18.030 per dolar AS,” pungkas Andry. (*)
Editor: Galih Pratama


