Poin Penting
- Rupiah dibuka melemah 0,32 persen ke level Rp17.965 per dolar AS.
- Pelemahan dipengaruhi pergerakan indeks dolar AS (DXY) dan ekspektasi kebijakan The Fed.
- Bank Mandiri memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp17.835-Rp17.930 per dolar AS.
Jakarta – Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada awal perdagangan Rabu (1/7). Mata uang Garuda dibuka di level Rp17.965 per dolar Amerika Serikat (AS), turun 0,32 persen dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di Rp17.907 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, Indeks dolar AS (DXY) berada di level 101,1, dan masih mempertahankan pelemahannya dari level tertinggi 15 bulan di 101,6 yang tercapai pada 24 Juni 2026.
Kondisi tersebut terjadi seiring meredanya kehawatiran terhadap lonjakan inflasi yang tidak terkendali sehingga mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga agresif oleh Federal Reserve (the Fed).
Baca juga: Menyambut Perang Bunga di Tengah Anjloknya Rupiah dan Dahaga Likuiditas
Prospek pemulihan pasokan energi dari kawasan tersebut juga dinilai menekan harga minyak dan bahan bakar, sehingga pelaku pasar mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap arah suku bunga tahun ini.
“Namun, proyeksi hawkish dari FOMC selaras dengan data terbaru yang menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang kuat dan inflasi inti yang tetap tinggi, sehingga risiko kalibrasi kebijakan ke tingkat yang restriktif tetap ada,” kata Andry, Rabu 1 Juli 2026
Selain itu, menurut Andry, pergerakan DXY juga mendapat dukungan dari kebijakan fiskal dovish Jepang yang menekan nilai tukar yen ke level terendah dalam empat dekade. Sementara itu, inflasi Zona Euro yang lebih rendah dari perkiraan membatasi penguatan euro terhadap dolar AS.
Baca juga: Rupiah Terus Tertekan, Ini Sentimen Pemicunya
Andry memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.835 hingga Rp17.930 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
“Pandangan kami rupiah hari ini akan bergerak di sekitar Rp17.835 dan Rp17.930 per dolar AS,” pungkas Andry. (*)
Editor: Yulian Saputra


