Poin Penting
- Rupiah dibuka melemah 0,31 persen ke Rp17.748 per dolar AS pada Senin (31/8/2026).
- Indeks dolar AS menguat setelah pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh.
- Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.675-Rp17.720 per dolar AS.
Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah pada awal perdagangan Senin (31/8/2026). Rupiah dibuka di level Rp17.748 per dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah 0,31 persen dibandingkan penutupan pada Jumat pekan lalu di Rp17.693 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan indeks dolar AS (DXY) menguat 0,55 persen menjadi 99,70 setelah pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS atau Fed Funds Rate (FFR) dapat bertahan lebih tinggi atau bahkan kembali naik.
Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan FOMC September 2026 meningkat tajam menjadi sekitar 57 persen, dari sekitar 35 persen sebelum pidato Warsh.
“Warsh menegaskan bahwa target inflasi The Fed sebesar 2 persen tetap menjadi ‘target yang tegas dan tetap’, serta menyebut inflasi yang mendasari belum menunjukkan perbaikan yang memadai. Ia juga mengatakan bahwa suku bunga jangka pendek tetap menjadi instrumen kebijakan utama The Fed,” jelas Andry, Senin, 31 Agustus 2026.
Baca juga: Rupiah Dibuka Menguat Seiring Meredanya Aksi Demonstrasi
Menurut Andry, laporan ketenagakerjaan AS untuk Agustus 2026 akan menjadi salah satu indikator penting bagi pasar.
Konsensus saat ini memperkirakan nonfarm payrolls (NFP) AS bertambah 45 ribu, setelah sebelumnya turun 23 ribu. Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan naik menjadi 4,2 persen dari 4,1 persen.
Risiko Geopolitik Tekan Pasar
Di sisi lain, risiko geopolitik kembali meningkat sepanjang akhir pekan. Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah Brent kembali menembus USD90 per barel.
Pasukan AS menyerang dua peluncur milik Iran di Pulau Larak, Selat Hormuz, pada Minggu. Serangan tersebut menjadi serangan AS pertama yang diketahui terhadap Iran sejak akhir Juli 2026.
“Harga Brent melonjak 2,5 persen menjadi sekitar USD90,3 per barel pada awal perdagangan Asia, Senin, membalikkan sebagian penurunan pekan lalu sekaligus kembali meningkatkan risiko kenaikan inflasi global,” ujarnya.
Baca juga: Menlu Iran Bongkar Dugaan Permainan Pejabat AS di Balik Harga Energi
Andry memperkirakan rupiah akan berada di kisaran Rp17.675 hingga Rp17.720 per dolar AS hari ini.
“Pandangan kami rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.675 hingga Rp17.720 per dolar AS,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


