Poin Penting
- Rupiah dibuka melemah ke level Rp17.388 per dolar AS pada perdagangan Senin (11/5/2026).
- Ketidakpastian konflik AS-Iran masih membayangi pasar global.
- Investor menanti data inflasi AS sebagai petunjuk arah kebijakan The Fed.
Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah pada perdagangan awal pekan, Senin (11/5/2026). Rupiah berada di level Rp17.388 per dolar Amerika Serikat (AS), turun 0,03 persen dibandingkan penutupan Jumat lalu di Rp17.382 per dolar AS.
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, pasar masih dibayangi ketidakpastian terkait proses negosiasi antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
“Dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington mengharapkan tanggapan dari Teheran pada hari Jumat mengenai proposal untuk mengakhiri perang,” kata Andry, Senin, 11 Mei 2026.
Baca juga: Bos BI Tegaskan All Out Jaga Stabilitas Rupiah
Andry menambahkan, investor juga menunggu data inflasi AS periode April 2026. Data tersebut dinilai penting untuk melihat dampak kenaikan harga minyak terhadap tekanan inflasi secara lebih luas.
Menurutnya, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih akan menjadi perhatian utama pasar global, terutama setelah ancaman terhadap gencatan senjata AS-Iran kembali muncul pekan lalu.
“Di antara rilis data ekonomi, sorotan akan tertuju pada tingkat inflasi konsumen dan produsen AS di tengah perpecahan di The Fed, selain penjualan ritel dan produksi industri,” imbuhnya.
Baca juga: Jaga Stabilitas Rupiah, BI Borong SBN Rp123 T hingga Guyur Insentif Likuiditas Rp427,9 T
Andry memperkirakan pergerakan rupiah pada hari ini berada di kisaran Rp17.338 hingga Rp17.416 per dolar AS.
“Pandangan kami rupiah hari ini akan bergerak di sekitar Rp17.338 dan Rp17.416 per dolar AS,” ujar Andry. (*)
Editor: Yulian Saputra


