Poin Penting
- Rupiah dibuka melemah 0,30 persen ke Rp17.778 per dolar AS, tertekan penguatan DXY dan kenaikan imbal hasil US Treasury
- Prospek kebijakan The Fed September masih berimbang, dengan pasar memperkirakan peluang 40% kenaikan suku bunga dan 60 persen suku bunga tetap
- Rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.690–Rp17.760 per dolar AS, dengan risiko geopolitik Timur Tengah dan arah harga minyak tetap menjadi perhatian.
Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah pada awal perdagangan hari ini, Kamis (27/8/2026). Rupiah dibuka pada level Rp17.778 per dolar Amerika Serikat (AS), atau melemah 0,30 persen dibandingkan penutupan kemarin di Rp17.725 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, indeks dolar AS (DXY) naik 0,25 persen menjadi 99,17, seiring kenaikan imbal hasil US Treasury yang memberikan dukungan bagi dolar AS.
“Investor terus mencermati pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam forum Jackson Hole mendatang, dengan fokus pasar tertuju pada fungsi reaksi The Fed di tengah kekhawatiran inflasi yang masih persisten,” ungkap Andry, Kamis, 27 Agustus 2026.
Baca juga: Menahan Yen di 160 per Dolar: Akankah Intervensi AS–Jepang Efektif?
Selanjutnya, kata Andry, prospek kebijakan The Fed pada September 2026 masih berada dalam posisi yang berimbang. Pasar saat ini memperhitungkan probabilitas sekitar 40 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada September, dibandingkan sekitar 60 persen probabilitas suku bunga tetap.
“Inflasi yang lebih kuat telah meningkatkan sensitivitas pasar terhadap kemungkinan komunikasi The Fed yang lebih hawkish, sementara investor menantikan panduan Warsh terkait risiko inflasi dan arah kebijakan moneter ke depan,” tambahnya.
Meski demikian, lanjut Andry, perkembangan geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi risiko utama bagi pasar, meskipun meredanya kekhawatiran terhadap potensi gangguan di Selat Hormuz terus menekan harga minyak.
Harga minyak mentah Brent turun 0,84 persen menjadi USD87,8/barel, seiring investor memantau perkembangan diplomatik Iran-Oman dan implikasinya terhadap risiko pasokan energi di kawasan.
Sementara, pasar saham Indonesia melemah, dengan IHSG turun 1,48 persen menjadi 6.405,7 atau -25,92 persen secara ytd, tertekan oleh pelemahan di berbagai sektor yang dipimpin sektor infrastruktur, teknologi, dan bahan baku.
Pasar obligasi Indonesia juga melemah, dengan imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik 3,9 bps menjadi 7,05 persen.
Baca juga: Bukan Dilarang! Ini Aturan BI untuk Pembelian Valas Lebih dari 10.000 Dolar AS
Dengan kondisi tersebut, Andry memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.690 hingga Rp17.760 per dolar AS.
“Pandangan kami rupiah hari ini akan bergerak di sekitar Rp17.690 hingga Rp17.760 per dolar AS,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


