Poin Penting
- Purbaya memastikan fiskal negara tetap aman meski rupiah menembus Rp17.500 per dolar AS
- Pemerintah akan membantu BI menjaga stabilitas rupiah lewat intervensi di pasar obligasi.
- Instrumen Bond Stabilization Fund (BSF) mulai diaktifkan untuk meredam tekanan rupiah.
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kondisi fiskal negara tahun ini masih relatif aman, meski terdapat tekanan terhadap nilai tukar rupiah ke level tertinggi sepanjang sejarah.
Purbaya menjelaskan, pemerintah telah memasukan skenario apabila nilai tukar rupiah mengalami pelemahan di atas angka asumsi APBN 2026. Menurutnya, hal itu masih bisa diantisipasi.
“Pada waktu kita hitung itu, kita sumulasinya sudah di atas asumsi APBN rupiahnya, nggak jauh sama sekarang. Jadi APBN-nya masih relatif aman,” ujar Purbaya saat ditemui di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.
Meski demikian, Purbaya memastikan pihaknya akan ikut membantu Bank Indonesia (BI) dalam mengendalikan nilai tukar rupiah yang tengah tertekan.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Purbaya Turun Gunung Bantu BI
“Tapi kita akan kendalikan nilai tukar, kita akan coba membantu nilai tukar, kita membantu Bank Indonesia (BI) sedikit-sedikit kalau bisa,” ungkapnya.
Purbaya menyatakan akan berupaya membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan memanfaatkan skema intervensi di pasar surat berharga atau bond market melalui Bond Stabilization Fund (BSF).
Baca juga: Bank Mandiri Proyeksikan Rupiah Tembus Rp17.135 per Dolar AS di Akhir 2026
“Kita akan mulai membantu besok dengan masuk ke bond market. Dengan Bond Stabilization Fund kan, tapi belum fund semuanya. Kita aktifin di instrumen yang kita punya di sini dulu, besok mulai jalan,” imbuhnya.
Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah per pukul 14.37 WIB tembus ke level Rp17.514 per dolar AS atau melemah 0,57 persen dibandingkan pada pembukaan perdagangan hari ini, Selasa (12/5/2026). (*)
Editor: Galih Pratama


