Poin Penting
- Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai inflasi domestik 2026 masih terkendali, terutama jika pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi
- Josua mengingatkan tekanan inflasi global mulai meningkat di sejumlah negara besar dan berpotensi memicu imported inflation ke perekonomian Indonesia
- Menurut Josua, penguatan dolar AS memperbesar risiko imported inflation, sementara bank sentral global masih cenderung mempertahankan suku bunga acuannya.
Jakarta – Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai, tekanan inflasi domestik pada 2026 masih relatif terjaga, terutama jika pemerintah mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi.
“Inflasi secara umum tekanannya relatif bisa terjaga di tahun ini, terutama kalau pemerintah masih mempertahankan harga BBM khususnya harga BBM bersubsidi,” kata Josua, dalam acara Virtual Media Briefing PIER Economic Review Kuartal I 2026, Selasa, 12 Mei 2026.
Meski demikian, dirinya mengingatkan bahwa tekanan inflasi global mulai menunjukkan tren lonjakan di sejumlah negara-negara besar.
Baca juga: Inflasi RI Tembus 2,92 Persen Sepanjang 2025
Dalam catatannya, inflasi di Amerika Serikat (AS), misalnya, telah mencapai 3,3 persen. Lalu, Jerman 2,9 persen, Inggris 3,3 persen, hingga kawasan Eropa secara keseluruhan menyentuh level 3 persen.
Ia bilang, kenaikan inflasi tersebut memperlihatkan tekanan inflasi global cukup nyata dan berpotensi memberikan rambatan ke perekonomian di Tanah Air.
Risiko Antisipasi
Josua menilai, salah satu risiko yang perlu diantisipasi, yakni imported inflation atau inflasi impor akibat lonjakan harga barang-barang impor yang dikonsumsi di dalam negeri.
“Lonjakan dari harga barang-barang impor pada akhirnya bisa berdampak kepada inflasi domestik karena imported inflation,” jelasnya.
Menurutnya, risiko imported inflation juga diperbesar oleh penguatan dolar AS terhadap sebagian besar mata uang dunia, tak terkecuali rupiah.
Baca juga: Inflasi Tahunan Januari 2026 Melonjak 3,55 Persen, Ini Biang Keroknya
Di lain sisi, Josua juga menilai bahwa bank sentral global cenderung mempertahankan suku bunga acuannya. Hingga kini, baik Federal Reserve maupun European Central Bank belum juga mengubah arah kebijakan moneternya.
“Jadi belum ada perubahan sejauh ini. Namun, memang ruang pemangkasan itu menjadi lebih terbatas ya,” bebernya.
Sementara itu, Bank of Japan dinilai masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga pada 2026, seiring tren kenaikan inflasi di Jepang.
Namun, kata Josua, respons Bank Sentral Jepang terhadap kenaikan inflasi historisnya cenderung lebih lambat dibandingkan bank sentral utama lainnya.
“Namun Bank Sentral Jepang ini cenderung relatif lebih lambat ya, lebih lambat untuk merespon dari kenaikan inflasi tersebut,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


